Sejarah Singkat Karaton Surakarta Hadiningrat


Source : http://goo.gl/BKoK1N

Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan1743.

Ricikan Atau Anatomi Keris

Anatorni keris dikenal juga dengan istilah ricikan keris. Berikut ini akan diuraikan anatorni keris satu persatu :
  1. Pesi, yaitu tangkai keris yang masuk ke dalam pegangan atau ukir.
  2. Ganja, yaitu dasar bilah keris yang tebal. Ganya dapat menyatu atau terpisah dengan bilah.
  3. Buntut Mimi, merupakan bentuk meruncing pada ujung ganja.
  4. Gunungan, yaitu bentuk menonjol atau membukit sebelum buntut.    
  5. Greneng, yaitu ornamen berbentuk huruf Jawa Dha ( ) yang berderet.
  6. Thingil, yaitu tonjolan kecil pada grenelig atau pada dasar huruf Jawa Dha.
  7. Ri pandhan, yaitu bentuk ujung yang meruncing menyerupai duri pada huruf Jawa Dha.
  8. Ron Dha, yaitu ornamen pada huruf Jawa Dha.
  9. Sraweyan, yaitu dataran yang merendah di belakang sogogwi, di atas ganja.
  10. Bungkul, bentuknya seperti bawang, terletak di tengah-tengah dasar bilah dan di atas ga~qa.
  11. Pejetan, bentuknya seperti bekas pijatan ibu jari yang terletak di belakang gandik.
  12. Lambe Gajah, bentuknya menyerupai bibir gajah. Ada yang rangkap dan Ietaknya menempel pada gandik.
  13. Gandik, berbentuk penebalan agak bulat yang memanjang dan terletak di atas sirah cecak atau ujung ganja.
  14. Kembang Kacang, menyerupai belalai gajah dan terletak di gandik bagian atas.
  15. Jalen, menyerupai taji ayam jago yang menempel di gandik.
  16. Greneng, yaitu ornamen berbentuk huruf Jawa Dha ( ) yang berderet.
  17. Tikel Alis, terietak di atas pejetan dan bentuknya rnirip alis mata.
  18. Janur, bentuk lingir di antara dua sogokan.
  19. Sogokan depan, bentuk alur dan merupakan kepanjangan dari pejetan.
  20. Sogokan belakang, bentuk alur yang terletak pada bagian belakang.
  21. Pudhak sategal, yaitu sepasang bentuk menajam yang keluar dari bilah bagian kiri dan kanan.
  22. Juga Pudhak Sategal.
  23. Poyuhan, bentuk yang menebal di ujung sogokan.
  24. Landep, yaitu bagian yang tajam pada bilah keris.
  25. Gusen, terletak di be!akang landep, bentuknya memanjang dari sor-soran sampai pucuk.
  26. Gula Milir, bentuk yang meninggi di antara gusen dan kruwingan.
  27. Kruwingan, dataran yang terietak di kiri dan kanan adha-adha.    
  28. Adha-adha, penebalan pada pertengahan bilah dari bawah sampal ke atas.

Kedatangan Islam ke Jawa

Di Gresik (daerah Leran) ditemukan batu bertahun 1082 Masehi berhuruf Arab yang menceritakan bahwa telah meninggal seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang beragama Islam. Lalu disekitar tahun 1350 saat memuncaknya kebesaran Majapahit, di pelabuhan Tuban dan Gresik banyak kedatangan para pedagang Islam dari India dan dari kerajaan Samudra (Aceh Utara) yang juga awalnya merupakan bagian dari Majapahit, disamping para pedagang Majapahit yang berdagang ke Samudra. Juga menurut cerita, ada seorang putri Islam berjuluk Putri Cempa dan Putri Cina yang menjadi isteri salah satu raja Majapahit.

Kerajaan Pajang


JokoTingkir sebagai raja bergelar Sultan Hadiwijaya (1568-1582), kedudukannya disahkan oleh Sunan Giri, segera mendapat pengakuan dari adipati-adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan salah seorang anak Sultan Prawoto yaitu Arya Pangiri diangkat menjadi adipati Demak. Selain itu, salah seorang yang paling berjasa dalam membinasakan Arya Penangsang yaitu Kyai Ageng Pemanahan (putra dari Kyai Ageng Anis yang mana Anis adalah putra Kyai Ageng Selo) diberi imbalan daerah Mataram (sekitar kota Gede dekat Yogyakarta) untuk ditinggali, yang juga membuat namanya lebih dikenal dengan panggilan Kyai Gede Mataram.

Kerajaan Mataram Islam

Penggantinya adalah putranya dari perkawinannya dengan ratu Hadi (putri pangeran Benowo) yang bernama Mas Jolang, berjuluk Panembahan Seda Krapyak dan bergelar Sultan Hanyokrowati (1601-1613), yang banyak menghadapi pemberontakan. Kegagalannya menaklukkan Surabaya walau di berbagai daerah berhasil, menyebabkan ia wafat di tahun 1613 dan dimakamkan di Kota Gede. Kemudian, anaknya yang menggantikan yaitu adipati Martapura yang sakit-sakitan segera digantikan oleh saudaranya bernama raden Rangsang yang berjuluk Sultan Agung Hanyokrokusuma (1613-1646).

Para Dewa / Batara dalam Pewayangan

Setelah kita menguraikan secara sederhana tentang gunungan maka mulai kita menginjak nama-nama dari pelaku wayang. Kita mulai dari nama-nama dewa. Jumlah dewa-dewa dan dewi-dewi sangatlah banyak. Di sini yang ingin kami ketengahkan hanyalah nama-nama dewa atau dewi yang sering digunakan di dalam setiap lakon wayang. 

Nama Raja dan Pendeta dalam Pewayangan


  1. Prabu Arjuna Sasrabahu ratu ing Maespati
  2. Prabu Baladewa ratu ing Mandura
  3. Prabu Basudewa ratu ing Mandura
  4. Prabu Bomanarakasura ratu ing Trajutrisna
  5. Prabu Drupada ratu ing Cempala  
  6. Prabu Dasarata ratu ing Ngayodya
  7. Prabu dasamuka ratu ing Ngalengka
  8. Prabu Drestarata ratu ing Ngastina
  9. Prabu Kresna ratu ing Dwarawati
  10. Prabu Karna ratu ing Ngawangga
  11. Prabu Maswapati ratu ing Wiratha
  12. Prabu Niwatakawaca ratu ing Iman Imantaka
  13. Prabu Pandhu Dewanata ratu ing Ngastina
  14. Prabu Puntadewa ratu ing Ngamarta
  15. Prabu Ramawijaya ratu ing Pancawati
  16. Prabu Salya ratu ing Mandraka   
  17. Prabu Sugriwa ratu ing Guwakiskendha
  18. Prabu Suyudana ratu ing Ngastina
  19. Begawan Abiyasa pratapane ing Saptaarga
  20. Resi Bima pratapane ing Talkandha
  21. Pandhita Duma pratapane ing Sokalima
  22. Begawan Mintaraga pratapane ing Indrakila
  23. Resi Palasara pratapane ing Ratawu
  24. Resi Subali pratapane ing Guwakiskendha

Nama Satria Dalam Pewayangan dan Kerajaannya


  1. Abimanyu : Satriyo ing Plengkawati
  2. Anoman : Satriyo ing Kendhalisada
  3. Arjuna : Satriyo ing Madukara   
  4. Aswatama : Satriyo ing Sokolima
  5. Antarejo : Satriyo ing Jangkarbumi
  6. Dresthajumeno : Satriyo ing Cempalarejo
  7. Dursasana : Satriyo ing Banjarjungut
  8. Gatutkaca : Satriyo ing Pringgodani
  9. Jayadrata : Satriyo ing Banakeling
  10. Kumbakarana : Satriyo ing Penglebur Gangsa
  11. Lesmana Mandra : Satriyo Saroja Binangun
  12. Nakula lan Sadewa : Satriyo ing Sawojajar
  13. Samba : Satriyo ing Paranggaruda
  14. Setiyaki : Satriyo ing Lesanpura
  15. Sengkuni : Satriyo ing Plasajenar
  16. Werkudara : Satriyo ing Jodhipati

Senjata dan Aji-aji Dalam Pewayangan


  1. Antareja : upas anta
  2. Aswatama : senjata cundhamanik  
  3. Baladewa :senjata kunta, gada nanggala lan alugara
  4. Dasamuka : senjata candrasa, pedhang sokayana aji-aji pancasona
  5. Gathutkaca :caping basunandha, kotang antakusuma. Aji-aji narataka
  6. Indrajit : senjata nagapasa lan wimohanastra
  7. Janaka : panah pasopati, soratama, ardhadhedhali, keris pulanggeni, kalanadhah.aji-aji sepiangin
  8. Jayadrata : gada rujakbeling
  9. Karna : senjata kunta, keris kaladite, panah wijayandanu.aji-aji kalalupa
  10. Kresna :senjata cakra. aji-aji wijayakusuma
  11. Kumbakarna : aji-aji gedhongmenga, pelakgelak sakethi
  12. Puntadewa : aji-aji kalimasada, songsong tunggulnaga
  13. Ramawijaya : panah gunawijaya
  14. Salya : aji-aji candhabirawa  
  15. Subali : aji-aji pancasona
  16. Werkudara : gada rujakpolo, lukitasari, kuku pancanaka


Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta


Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya? 

Pertemuan Kanjeng Ratu Kidul Dengan Penembahan Senopati


Sebelum Panambahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan tapabrata di Dlepih dan tapa ngeli. Dalam laku tapabratanya, beliau selalu memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan mengayomi rakyatnya sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur.

Dalam cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli, sampai di tempuran atau tempat bertemunya aliran sungai Opak dan sungai Gajah Wong di dekat desa Plered dan sudah dekat dengan Parang Kusumo, Laut Selatan tiba-tiba terjadilah badai dilaut yang dasyat sehingga pohon-pohon dipesisir pantai tercabut beserta akarnya, ikan-ikan terlempar di darat dan menjadikan air laut menjadi panas seolah-olah mendidih. Bencana alam ini menarik perhatian Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian muncul dipermukaan laut mencari penyebab terjadinya bencana alam tersebut.

Fungsi Panggung Sangga Buwana


Versi lain mengatakan bahwa Panggung Sangga Buwana ditilik dari segi historisnya, pendirian bangunan tersebut disengaja untuk mengintai kegiatan di Benteng Vastenburg milik Belanda yang berada disebelah timur laut karaton. Memang tampaknya, walaupun karaton Surakarta tuduk pada pemerintahan Belanda, keduanya tetap saling mengintai. Ibarat minyak dan air yang selalu terpisah jelas kendati dalam satu wadah. Belanda mendirikan Benteng Vastenburg untuk mengamati kegiatan karaton, sedangkan PB III yang juga tidak percaya pada Belanda, balas mendirikan Panggung Sangga Buwana untuk mengintai kegiatan beteng. 

Bentuk Panggung Sangga Buwana

Bentuk fisik dari Panggung Sangga Buwana adalah segi delapan atau hasta walu dalam istilah Jawa. Bentuk yang segi delapan itu diartikan sebagai hasta brata yang menurut filosifi orang Jawa adalah sifat kepepimpinan, jadi diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat yang demikian. Filsafat Jawa selalu berorientasi pada alam karana dengan alam mereka dapat menikmati hidup dan merasakan komunikasi batin manusia dengan Sang Pencipta. Orang Jawa juga mempercayai bahwa apabila bangunan yang tidak menghiraukan alam lingkungan maka bangunan tersebut akan jauh dari situasi manusiawi.

Ajaran hasta brata atau delapan laku yang merupakan ajaran kepemimpinan bagi setiap manusia. Dari ajaran tersebut diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat-sifat seperti watak kedelapan unsur alam yaitu:

Panggung Sangga Buwana dan Mitosnya

PANGGUNG SANGGA BUWANA DAN MITOSNYA

Secara mistik kejawen, Panggung Sangga Buwana dipercaya sebagai tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Kangjeng Ratu Kidul, oleh karena itu letak Panggugu Sangga Buwana tersebut persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja sebab datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan. Pada puncak bangunan Panggung Sangga Buwana yang berbentuk seperti topi bulat terdapat sebuah hiasan seekor naga yang dikendarai oleh manusia sambil memanah.

Menurut Babad Surakarta, hal itu bukan sekedar hiasan semata tetapi juga dimaksudkan sebagai sengkalan milir. Bila diterjemahkan dalam kata-kata sengkalan milir itu berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma, yang berarti tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi yang merupakan tahun berdirinya Panggung Sangga Buwana (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, dan Janma=1)

Pakubuwono


Pendopo ageng

Kompleks istana dinasti Mataram  yang dulu ada di Kartasura pada tahun 1742, diserbu dan dijarah raja saingan dari kerajaan pulau Madura. Dengan bantuan Belanda Raja Mataram, Pakubuwono II, merebut kembali tahtanya dan memindahkan kerajaannya ke dekat Surakarta. Di tempat yang baru ini, di tepi sungai yang terpanjang di Pulau Jawa yang bernama begawan Solo, Pakubuwono II membangun istana yang baru.
Menurut legenda, lokasi Kraton Surakarta dipilih oleh Ratu Laut Selatan, Nyai Loro Kidul, yang secara tradisional berhak mengesahkan kedudukan raja-raja jawa. Di sekeliling Pendopo Utama yang terletak di bagian tengah kraton terdapat lautan pasir yang berwarna hitam. Hal ini menandakan bahwa kraton berada dalam wilayah kekuasaan Nyai Loro kidul dari Laut Selatan.

Ramayana

Ramayana sebenarnya diambil dari ceritera yang benar-benar terjadi di daratan India. Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka. Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa. Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah). Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan diragukan.

Maka setelah Sinta dibebaskan, ia lantas pati obong, yang artinya keadaan negeri India mulai dibenahi, dengan merubah peraturan dan melenyapkan kebudayaan si bekas penjajah yang sempat berkembang di India. sebenarnya diambil dari ceritera yang benar-benar terjadi di daratan India. Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka. Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa. Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah). Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan diragukan. Maka setelah Sinta dibebaskan, ia lantas pati obong, yang artinya keadaan negeri India mulai dibenahi, dengan merubah peraturan dan melenyapkan kebudayaan si bekas penjajah yang sempat berkembang di India.

Dalam khazanah kesastraan Ramayana Jawa Kuno, dalam versi kakawin (bersumber dari karya sastra India abad VI dan VII yang berjudul Ravanavadha/kematian Rahwana yang disusun oleh pujangga Bhatti dan karya sastranya ini sering disebut Bhattikavya) dan versi prosa (mungkin bersumber dari Epos Walmiki kitab terakhir yaitu Uttarakanda dari India), secara singkat kisah Ramayana diawali dengan adanya seseorang bernama Rama, yaitu putra mahkota Prabu Dasarata di Kosala dengan ibukotanya Ayodya. Tiga saudara tirinya bernama Barata, Laksmana dan Satrukna. Rama lahir dari isteri pertama Dasarata bernama Kausala, Barata dari isteri keduanya bernama Kaikeyi serta Laksmana dan Satrukna dari isterinya ketiga bernama Sumitra. Mereka hidup rukun.

Sejak remaja, Rama dan Laksmana berguru kepada Wismamitra sehingga menjadi pemuda tangguh. Rama kemudian mengikuti sayembara di Matila ibukota negara Wideha. Berkat keberhasilannya menarik busur pusaka milik Prabu Janaka, ia dihadiahi putri sulungnya bernama Sinta, sedangkan Laksmana dinikahkan dengan Urmila, adik Sinta.
Setelah Dasarata tua, Rama yang direncanakan untuk menggantikannya menjadi raja, gagal setelah Kaikeyi mengingatkan janji Dasarata bahwa yang berhak atas tahta adalah Barata dan Rama harus dibuang selama 15 (lima belas) tahun. Atas dasar janji itulah dengan lapang dada Rama pergi mengembara ke hutan Dandaka, meskipun dihalangi ibunya maupun Barata sendiri. Kepergiannya itu diikuti oleh Sinta dan Laksmana.

Namun kepergian Rama membuat Dasarata sedih dan akhirnya meninggal. Untuk mengisi kekosongan singgasana, para petinggi kerajaan sepakat mengangkat Barata sebagai raja. Tapi ia menolak, karena menganggap bahwa tahta itu milik Rama, sang kakak. Untuk itu Barata disertai parajurit dan punggawanya, menjemput Rama di hutan. Saat ketemu kakaknya, Barata sambil menangis menuturkan perihal kematian Dasarata dan menyesalkan kehendak ibunya, untuk itu ia dan para punggawanya meminta agar Rama kembali ke Ayodya dan naik tahta. Tetapi Rama menolak serta tetap melaksanakan titah ayahandanya dan tidak menyalahkan sang ibu tiri, Kaikeyi, sekaligus membujuk Barata agar bersedia naik tahta. Setelah menerima sepatu dari Rama, Barata kembali ke kerajaan dan berjanji akan menjalankan pemerintahan sebagai wakil kakaknya

Banyak cobaan yang dihadapi Rama dan Laksmana, dalam pengembaraannya di hutan. Mereka harus menghadapi para raksasa yang meresahkan masyarakat disekitar hutan Kandaka itu. Musuh yang menjengkelkan adalah Surpanaka, raksesi yang menginginkan Rama dan Laksmana menjadi suaminya. Akibatnya, hidung dan telinga Surpanaka dibabat hingga putus oleh Laksmana. Dengan menahan sakit dan malu, Surpanaka mengadu kepada kakaknya, yaitu Rahwana yang menjadi raja raksasa di Alengka, sambil membujuk agar Rahwana merebut Sinta dari tangan Rama.
Dengan bantuan Marica yang mengubah diri menjadi kijang keemasan, Sinta berhasil diculik Rahwana dan dibawa ke Alengka.

Burung Jatayu yang berusaha menghalangi, tewas oleh senjata Rahwana. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Jatayu masih sempat mengabarkan nasib Sinta kepada Rama dan Laksmana yang sedang mencarinya.Dalam mencari Sinta, Rama dan Laksamana berjumpa pembesar kera yang bernama Sugriwa dan Hanuman. Mereka mengikat persahabatan dalam suka dan duka. Dengan bantuan Rama, Sugriwa dapat bertahta kembali di Kiskenda setelah berhasil mengalahkan Subali yang lalim. Setelah itu, Hanuman diperintahkan untuk membantu Rama mencari Sinta. Dengan pasukan kera yang dipimpin Anggada, anak Subali, mereka pergi mencari Sinta.

Atas petunjuk Sempati, kakak Jatayu, mereka menuju ke pantai selatan. Untuk mencapai Alengka, Hanuman meloncat dari puncak gunung Mahendra. Setibanya di ibukota Alengka, Hanuman berhasil menemui Sinta dan mengabarkan bahwa Rama akan segera membebaskannya. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman melapor kepada Rama. Strategi penyerbuan pun segera disusun. Atas saran Wibisana, adik Rahwana yang membelot ke pasukan Rama, dibuatlah jembatan menuju Alengka. Setelah jembatan jadi, berhamburanlah pasukan kera menyerbu Alengka. Akhirnya, Rahwana dan pasukannya hancur. Wibisana kemudian dinobatkan menjadi raja Alengka, menggantikan kakaknya yang mati dalam peperangan. Yang menarik dan sampai saat ini sangat populer di Jawa, adalah adanya ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah kerajaan atau negara dari Rama kepada Wibisana, yang dikenal dengan sebutan ASTHABRATA.
Setelah berhasil membebaskan Sinta, pergilah Rama dan Sinta serta Laksmana dan seluruh pasukan (termasuk pasukan kera) ke Ayodya. Setibanya di ibukota negera Kosala itu, mereka disambut dengan meriah oleh Barata, Satrukna, para ibu Suri, para punggawa dan para prajurit, serta seluruh rakyat Kosala. Dengan disaksikan oleh mereka, Rama kemudian dinobatkan menjadi raja.
Pada akhir ceritera, ada perbedaan mencolok antara dua versi Ramayana Jawa Kuno. Untuk versi kakawin dikisahkan, bahwa Sinta amat menderita karena tidak segera diterima oleh Rama karena dianggap ternoda. Setelah berhasil membersihkan diri dari kobaran api, Sinta diterimanya. Dijelaskan oleh Rama, bahwa penyucian itu harus dilakukan untuk menghilangkan prasangka buruk atas diri isterinya. Mereka bahagia.
Sedangkan di dalam versi prosa, menceritakan bagaimana Rama terpengaruh oleh rakyatnya yang menyangsikan kesucian Sinta. Disini Sinta yang sedang mengandung di usir oleh Rama dari istana. Kelak Sinta melahirkan 2 (dua) anak kembar yaitu Kusha dan Lawa. Kemudian kisah ini diahiri dengan ditelannya Sinta oleh Bumi.
Kisah Ramayana mempunyai banyak versi dengan berbagai penyimpangan isi cerita, termasuk di India sendiri. Penyebarannya hampir di seperempat penduduk dunia atau minimal di Asia Tenggara. Sedangkan di Indonesia, diketahui sekitar 7 - 8 abad yang lalu, walau sesungguhnya di Indonesia dapat ditemukan jauh lebih dini yaitu sebelum abad 2 Sebelum Masehi.

Ramayana dari asal kata Rama yang berarti menyenangkan; menarik; anggun; cantik; bahagia, dan Yana berarti pengembaraan. Cerita inti Ramayana diperkirakan ditulis oleh Walmiki dari India disekitar tahun 400 SM yang kisahnya dimulai antara 500 SM sampai tahun 200, dan dikembangkan oleh berbagai penulis. Kisah Ramayana ini menjadi kitab suci bagi agama Wishnu, yang tokoh-tokohnya menjadi teladan dalam hidup, kebenaran, keadilan, kepahlawanan, persahabatan dan percintaan, yaitu: Rama, Sita, Leksmana, Sugriwa, Hanuman, Wibisana. Namun disini, kami informasikan tentang Ramayana versi Jawa.
Di zaman Mataram Kuno saat Prabu Dyah Balitung (Dinasti Sanjaya) bertahta, telah ada kitab sastra Ramayana berbahasa Jawa Kuno (Jawa Kawi), tidak menginduk pada Ramayana Walmiki, lebih singkat, memuat banyak ajaran dan katanya berbahasa indah. Di awal abad X sang raja membuat candi untuk pemujaan dewa Shiwa, yaitu Candi Prambanan (candi belum selesai sampai wafatnya raja yang, maka dilanjutkan oleh penggantinya yaitu Prabu Daksa) yang sekaligus menjadi tempat ia dikubur, dengan relief Ramayana namun berbeda dengan isi cerita Ramayana dimaksud.

Ramayana Jawa Kuno memiliki 2 (dua) versi, yaitu Kakawin dan Prosa, yang bersumber dari naskah India yang berbeda, yang perbedaan itu terlihat dari akhir cerita. Selain kedua versi itu, terdapat yang lain yaitu Hikayat Sri Rama, Rama Keling dan lakon-lakon.
Cerita Ramayana semakin diterima di Jawa, setelah melalui pertunjukan wayang (wayang orang, wayang kulit purwa termasuk sendratari). Tapi ia kalah menarik dengan wayang yang mengambil cerita Mahabharata, karena tampilan ceritanya sama sekali tidak mewakili perasaan kaum awam (hanya pantas untuk kaum Brahmana dan Satria) walau jika dikaji lebih mendalam, cerita Ramayana sebenarnya merupakan simbol perjuangan rakyat merebut kemerdekaan negerinya.
Bahwa cerita Ramayana tidak bisa merebut hati kaum awam Jawa seperti Mahabharata, antara lain disebabkan:
  • Ceritanya dipenuhi oleh lambang-lambang dan nasehat-nasehat kehidupan para bangsawan dan penguasa negeri, yang perilaku dan tindakannya tidak membaur di hati kaum awam;
  • Ramayana adalah raja dengan rakyat bangsa kera yang musuhnya bangsa raksasa dengan rakyat para buta breduwak dan siluman;
  • Kaum awam memiliki jalan pikiran yang relatif sangat sederhana, dan berharap pada setiap cerita berakhir pada kebahagiaan.
Yang menarik sampai saat ini di Indonesia (Jawa) adalah adanya suatu ajaran falsafah yang terdapat di Ramayana, yaitu ajaran Rama terhadap adik musuhnya bernama Gunawan Wibisana yang menggantikan kakaknya, Rahwana, setelah perang di Alengka. Ajaran itu dikenal dengan nama Asthabrata, (astha yang berarti delapan dan brata yang berarti ajaran atau laku). yang merupakan ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah negara atau kerajaan. Ajaran dimaksud yang juga dapat dilihat dalam Diaroma gambar wayang di Museum Purnabakti TMII (1994 M), yaitu :
  1. Bumi : artinya sikap pemimpin bangsa harus meniru watak bumi atau momot-mengku bagi orang jawa, dimana bumi adalah wadah untuk apa saja, baik atau buruk, yang diolahnya sehingga berguna bagi kehidupan manusia;
  2. Air : artinya jujur, bersih dan berwibawa, obat haus air maupun haus ilmu pengetahuan dan haus kesejahteraan;
  3. Api : artinya seorang pemimpin haruslah pemberi semangat terhadap rakyatnya, pemberi kekuatan serta penghukum yang adil dan tegas;
  4. Angin : artinya menghidupi dan menciptakan rasa sejuk bagi rakyatnya, selalu memperhatikan celah-celah di tempat serumit apapun, bisa sangat lembut serta bersahaja dan luwes, tapi juga bisa keras melebihi batas, selalu meladeni alam;
  5. Surya : artinya pemberi panas, penerangan dan energie, sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa surya/matahari, mengatur waktu secara disiplin;
  6. Rembulan : artinya bulan adalah pemberi kedamaian dan kebahagiaan, penuh kasih sayang dan berwibawa, tapi juga mencekam dan seram, tidak mengancam tapi disegani.
  7. Lintang : artinya pemberi harapan-harapan baik kepada rakyatnya setinggi bintang dilangit, tapi rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri, disamping harus mengakui kelebihan-kelebihan orang lain;
  8. Mendung : artinya pemberi perlindungan dan payung, berpandangan tidak sempit, banyak pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan, tidak mudak menerima laporan asal membuat senang, suka memberi hadiah bagi yang berprestasi dan menghukum dengan adil bagi pelanggar hukum.
Prof. Dr. Porbatjaraka, seorang ahli sejarah dan kebudayaan Jawa, setelah membaca kitab Ramayana Jawa Kuna Kakawin, memberi komentar : "Ini merupakan peninggalan leluhur Jawa, yang sungguh adiluhung, cukup untuk bekal hidup kebatinan". Dalam cakupan luas, pengaruh Ramayana terhadap filsafat hidup Jawa dapat diketahui dari Sastra Jendra, Sastra Cetha dan Asthabrata.
Sari dari Sastra Jendra adalah ilmu/ajaran tertinggi tentang keselamatan, mengandung isi dan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun karena ilmu ini bersifat sangat rahasia (tidak disebarluaskan secara terbuka karena penuh penghayatan bathin yang terkadang sulit diterima umum secara rasional), maka tidak mungkin disebar-luaskan secara terbuka. Sebelum seseorang menyerap ilmu ini ia harus mengerti terlebih dahulu tentang mikro dan makro kosmos, sehingga yang selama ini dipaparkan termasuk melalui wayang, hanyalah kulitnya saja. Sastra Cetha (terang) adalah berisi ajaran tentang peran, sifat dan perilaku raja. Sedangkan Asthabrata telah diuraikan tersebut diatas.
Kisah Ramayana muncul dalam banyak versi, yaitu antara lain di Vietnam, Kamboja, Laos, Burma, Thailand, Cina, Indonesia maupun di India (tempat asal cerita) sendiri. Menurut Dr.Soewito S. Wiryonagoro, di Indonesia sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) versi, yaitu Ramayana Kakawin, yang terlukis dalam relief-relief di dinding candi seperti candi Lorojonggrang Prambanan dan Candi Penataran, dan yang berkembang di masyarakat dalam wujud cerita drama.(wayang kulit, sandiwara dan film).

Ramayana dari asal kata Rama = menyenangkan/menarik/anggun/cantik/bahagia dan Yana berarti pengembaraan., yang kisah tersebut ditulis Walmiki dari India sekitar tahun 400 Sebelum Masehi, berbahasa Sanskerta, yang selanjutnya dikembangkan oleh penulis-penulis lain, sehingga minimal juga ada 3 (tiga) kisah Ramayana versi India.

Di jaman Mataram kuna, saat Prabu Balitung (dinasti Sanjaya) memerintah, telah ada kitab sastra Ramayana dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi), yang tidak menginduk pada Ramayana Walmiki.















Karaton-karaton Lama Jawa

SEJARAH SINGKAT

KARATON-KARATON LAMA-JAWA



KALING

Sekitar tahun 618-906 di Jawa Tengah ada kerajaan bernama Kaling/Holing. Rakyat tenteram dan hidup makmur. Sejak tahun 674 diperintah oleh seorang raja perempuan bernama Simo, yang memerintah berdasarkan kejujuran mutlak, sangat keras dan masing-masing orang mempunyai hak dan kewajiban yang tidak berani dilanggar. Sebagai contoh: putra mahkota pun dipotong kakinya karena menyentuh barang yang bukan miliknya di tempat umum.

MATARAM Lama (Jawa Tengah)

Di desa Canggal (barat daya Magelang) ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 732, berhuruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta. Isi utama menceritakan tentang peringatan didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya, di sebuah pulau yang mulia bernama Yawadwipa yang kaya raya akan hasil bumi khususnya padi dan emas.

Mendirikan lingga secara khusus adalah mendirikan kerajaan. Tempat tepatnya adalah di gunung Wukir desa Canggal. Disini diketemukan sisa-sisa sebuah candi induk dengan 3 (tiga) candi perwara di depannya. Sayangnya yang masih tersisa sangat sedikit sekali, dimana lingganya sudah tidak ada dan yang ada hanya landasannya yaitu sebuah yoni besar sekali, disamping candinya pun juga sudah tidak berwujud lagi.

Yawadwipa mula-mula diperintah oleh raja Sanna, sangat lama, bijaksana dan berbudi halus. Lalu setelah wafat digantikan oleh Sanjaya, anak Sannaha (saudara perempuan Sanna), raja yang ahli dalam kitab-kitab suci dan keprajuritan, menciptakan ketenteraman dan kemakmuran yang dapat dinikmati rakyatnya.
Dari prasasti-prasasti para raja yang berturut-turut menggantikannya, Sanjaya dianggap sebagai Wamsakarta dari kerajaan Mataram dan diakui betapa besarnya Sanjaya itu bagi mereka sampai abad X.

Kerajaan Mataram Islam


Pada abad ke-16, sebelum Belanda menjajah Hindia Belanda, Nusantara terdiri atas beberapa kerajaan yang saling bersaing yang pada waktu tidak bersamaan menguasai Pulau Jawa. Kerajaan Jawa yang besar dan terakhir, dikenal dengan nama Mataram II, didirikan pada tahun 1587 oleh Pangeran Senopati. Pada puncak kejayaannnya, pengaruh kerajaan ini tidak saja tersebar ke luar Jawa tetapi sampai ke daerah yang sekarang bernama Malaysia.Pada zaman pemerintahan Raja Amangkurat II, Kerajaan Mataram, yang pada mulanya terletak di Kota Gede, di pinggiran yang sekarang bernama kota Yogyakarta, berpindah tempat beberapa kali antara tahun 1587 dan 1680. Raja Amangkurat II inilah yang mendirikan kraton di Kartasura dekat kota yang sekarang bernama Surakarta (Solo). Pada zaman pemerintahan raja ini hubungan antara kraton dan pemerintahan kolonial Belanda memburuk. Ketika  Amangkurat III menggantikan ayahnya, Belanda membantu pangeran saingannya untuk dijadikan raja baru yang bergelar Sunan Pakubuwono I.

Indonesia Dalam Catatan Sejarah

INDONESIA DALAM CATATAN TAHUN DEMI TAHUN

Zaman Indonesia – Hindu  


  • Kira-kira th. 700 M : Kerajaan Melayu runtuh. Sriwijaya berkuasa. Pusat Palembang: pusat agama Budha dan ilmu pengetahuan (sekolah tinggi agama)Kira-kira th. 78 Masehi : Kedatangan bangsa Hindu di Indonesia. Permulaan perthitungan Tahun Jawa.
  • Abad IV-V : Kerajaan Hindu di Jawa Barat Tarumanegara. Raja : Purnawarman. Ibu kota Jansinga. Di Jawa Tengah : Kerajaan Kalingga.
  • 414 : Perkunjungan Fa Hien musafir Tionghoa ke Indonesia.
  • 433 dan 435 : Dua kali perkunjungan utusan Tarumanegara ke Tiongkok.
  • Kira-kira th. 450 M : Di Kalimantan : kerajaan Muarakaman atau Kutai. Raja-rajanya : Kudungga, Asjwawarman dan Mulawarman. 


  • Kira-kira th. 650 M : Di Sumatera : kerajaan Melayu dan Sriwijaya..
  • Kira-kira th. 732 M : Sanjaya merubah nama Kalingga dengan Mataram. Ia raja pertama Mataram Hindu. Ibu kota : Mendang Kemulan. Pendirian candi-candi Siwa di Gunung Dieng.
  • Kira-kira th. 750-850 M : Sailendra dari Sriwijaya menguasai Jawa Tengah. Berdirinya candi-candi Borobudur, Mendut, Kalasan.
  • Kira-kira th. 800 M : Mataram terdesak. Keluarga Sanjaya menyingkir ke Jawa kembali ke Jawa Tengah
  • Kira-kira th. 925 M : Jawa Tengah ditinggalkan, di Jawa Timur didirikan kerajaaan.
  • Kerajaan Jawa Timur (925-1042)
  • Kira-kira th. 929-947 M : Empu Sindok, raja pertama Jawa Timur, pusat : Singasari.
  • 947-990 : Sri Isyana Tunggawijaya, puteri Sindok memerintah.
  • 990-1007 : Pemerintah Darmawangsa. Dalam zamannya diterjemahkan Mahabarata dari bahasa Sansekerta bahasa Jawa.
  • 991-992 : Penyerangan darmawangsa ke Sriwijaya. Gagal.
  • 1006-1007 : Sriwijaya menuntut balas. Darmawangsa tewas.
  • 1010 : Utusan terdiri dari bupati-bupati meminta pada Airlangga, menantu Darmawangsa untuk mengendalikan pemerintahan.
  • 1019-1041 : Pemerintahan Airlangga. Ibu kota: Kahurioan. Dalam zamannya Empu Kanwa menciptakan : Arjunawiwaha.
  • 1028-1035 : Airlangga turun tahta. Kerajaan yang dengan susah payah disatukan dibagi dua untuk kedua putranya. Jenggala dengan ibu kota Kahuripan. Panjalu atau Kediri dengan ibu kota Daha.
  • Kerajaan Kediri (1042 – 1222)
  • Terjadilah peperangan antara kedua putra Airlangga untuk merebut hegemoni. Akhirnya Kediri berkuasa. Pengaruhnya sampai ke Indonesai Timur.
  • 1115-1134 : Pemerintahan Kamicwara I. Dalam zamannya Empu Darmaja menjiptakan : Smaradahana.
  • 1135-1157 : Jayabaya, raja-ahli-nujum. Empu Sedah menterjemahkan sebagian Mahabrata: Bratayuda. Pujangga lain Empu Panuluh.

  • 1157-1171 : Sarweswara
  • 1171-1181 : Areyyeswara
  • 1181-1185 : Kroncharyadipa
  • 1185-1194 : Karmicwara II






  • 1194-1200 : Sarweswara
  • 1200-1222 : Kertajaya
  • 1222 : Kertajaya dikalahkan oleh Ken Angrok, raja Singasari




Kerajaan Kediri
1222-1227 : Ken Angrok bergelar Rajasa, raja pertama singasari. Pusat: Tumapel yang diganti namanya dengan Singasari.  
1227 : Ken Angrok dibunuh oleh anak tirinya Anusapati.
1227-1248 : Pemerintahan Anusapati.
1248 : Tohjaya memerintah.
1248-1268 : Ranggawuni ( Sriwisnuwardana).
1268-1292 : Kertanegara raja terakhir Singasari.  

1275 : Ekspedisi ke Melayu. Sriwijaya ditaklukan.
1284 : Ekspedisi ke Bali
1289 : Hubungan Singasari dengan Kubilai Khan, Kaisar Tiongkok, menjadi buruk.
1292 : Serangan atas Singasari oleh Jayakatwang, anak Kertajaya.  
Kerajaan Kediri II (1292-1293)
Kerajaan ini tidak lama berdirinya. Berdirinya disertani dengan pemerintahan-bayangan Majapahit yang akan menjelma. Bary saja Jakatwang memerintah, kerajaan telah jatuh ketangan yang lebih berhak : Raden Wijaya, keturunan Ken Angrok
1293 : Angkatan laut Tiongkok dibawah pimpinan Hei Mi, Kan, Hsing dan Hsi Pi berlabuh di Tuban. Maksudnya untuk menghajarKertanegarta yang sudah meninggal. Raden Wijaya memakai kesempatan ini. Pertama kali bersatu dengan pasukan Tiongkok dan bersama-sama menjerang Jayakatwang yang dapat dikalahkan. Raden Wijaya kini balik gagang dan mengusir pasukan Tiongkok.

Kerajaan Majapahit  
1293-1309 : Raden Wijaya, dengan gelar Kertarajasa Jayawrdana, radja Majapahit pertama.
1309-1328 : Pemerintah Jayanegara
1328-1350 : Prabu Kenya atau Tribuanatunggadewi memerintah.
1350-1389 : Pemerintahan Hayam Wuruk zaman keemasan Majapahit. Hampir seluruh Indonesia dalam kekuasaan. Buat pertama kali dipakai kata : Nusantara.
Pujangga : Empu Prapanca menulis Negarakertagama.
Empu Tantular : Arjunawijaya Sutasoma
1364 : Gajah Mada, perdana menteri utama Majapahit, meninggal, setelah lebih kurang 33 tahun memegang jabatan penting ini.
1389-1400 : Pemerintahan pertama Wikramawardana  


1429-1447 : Pemerintahan kedua Suhita
1447-1451 : Pemerintahan Bre Tumapel
1437 : Kediri memerdekakan diri dari Majapahit
1478 : Rja Kediri, Giridrawardana mengusir raja-raja keturunan Raden Wijaya
1520 : Kejatuhan Majapahit seluruhnya. Tamatlah riwayatraja-raja keturunan Ken Angrok
Jawa Barat
1030 : Berdirinya kerajaan hindu : Sunda dengan rajanya Sri Jayabupati.
1190 : Kerajaan Galuh dengan rajanya Ratu Pusaka
1333 : Kerajaan Pajajaran, dengan ibu kota Pakuan. Rajanya Ratu Purnama

Islam Di Indonesia
570 : Lahirnya Nabi Muhammad s.a.w
622 : Nabi Muhammad hidjrah dari Mekah ke Medina Permulaan perkiraan Tahun Islam.
632 : Wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.
Kira-kira abad ke-13 (1290) : Islam masuk ke Indonesia. Kerajaan Islam di Sumatera : Perlak dan Samudera Pasai
Kira-kira abad ke-14 : Malaka pusat perkembangan Islam.
1419 : Maulana Malik Ibrahim, wafat di Gersik. Pengembang Islam yang pertama di Jawa Timur
1511 : Bandar Malaka jatuh kedalam tangan orang Portugis
1518 : Adipati Junus mencoba merebut Malaka. Kerajaan kerajaan Islam pertama di Jawa berdiri : Demak dengan raja perama Raden Patah
1518-1521 : adipati Junus memerintah Demak
1521 : Pasai jatuh ketangan Portugis
1527 : Falatehan menaklukan Banten dan menjadi penyiar Islam di Jawa Barat.
1568 : Baten melepaskan diri dari Demak
1570 : Falatehan wafat dimakamkan di Gunung Jati :
Timbulnya Mataram Islam (Mataram II)
1569 : Tanda kekuasaan kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang. Kyai Gede Pemanahan, petinggi Mataram, daerah terkemuka dibawah pemerintahan Pajang.
1575 : Kyai Gede Pemanahan wafat
1575-1601 : Sutawijaya \Senopati, putra Kyai Gede, raja pertama Mataram.
1582 : Pajang dikepung Mataram
1586 : Pajang dipidahkan ke Mataram
1601-1613 Mas Jolang
1613-1645 : Sultan Agung
1645-1677 Amngkurat I
1677-1703 : Amangkurat II
1703-1708 : Amangkurat III (sunan mas)
1703-1719 : Paku Buwana I (Pangeran Puger)
1704-1708 : Perang Mahkota I
1719-1727 : Amangkurat IV
1719-1723 : Perang Mahkota II
1726-1749 : Paku Buwana II
1749-1753 : Perang Mahkota III
1749-1788 : Paku Buwana III
1755 : Perjanjian Gianti. : Surakarta dan Yogyakarta
1755-1792 : Hamengku Buwono I (Mangkubumi), Sultan Jogja
1757 : Perdamaian Salatiga.  berdirinya Mangkunegaran,
1788-1820 : Paku Buwana IV
1792-1810 : Hamengku Buwana II
1811-1812 : Hamengku Buwana II
1813 : Timbulnya Paku Alam, sebagian Yogyakarta. Pangeran Notokusumo sebagai Paku Alam I.
Sesudah 1813 : Raja-raja Mataram II yang terpecah empat itu silih berganti
1938 : Paku Alam VIII
1939 : Hamengku Buwana IX
1944 : Paku Buwana XII
1944 : Mangku Negara VIII
1945 Indonesia MERDEKA....................................

Homosoloensis

HOMOSOLOENSIS


Zaman Prehistori,
Ketika jaman awal kala es, yaitu kira-kira dua juta tahun yang lalu , ketika curah hujan di dataran Sunda dan dataran Sahul sangat besar, dan ketika seluruh daerah itu tertutup oleh vegetasi tropikal yang sangat padat, sudah ada pemburu-pemburu manusia purba yang menjelajahi daerah itu. Selama jangka waktu tujuh puluh tahun, diberbagai  tempat disepanjang lembah sungai brantas di Jawa Timur, telah diketemukan sebanyak 41 buah fosil manusia purba itu. Situs-situs yang tertua berlokasi di dekat desa Trinil, Ngandong dan Sangiran dan dekat kota Mojokerto. Oleh para ahli paleoantropologi manusia-manusia purba itu dinamakan Pithecanthropus Erectus, dan akhir-akhir ini sering juga dipakai Homo Erectus