Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Batik Surakarta

Sedemikian rumitnya tatanan busana yang terkait erat dengan adat dan tata sopan santun kalangan keraton, maka pemakaian kain batik sebagai busana kebesaran harus mentaati segala peraturaan yang beriaku. Misalnya pemakaian kain batik untuk kalangan wanita harus menutupi mata kaki. Kalau memakai kain batik jauh lebih tinggi dari mata kaki, hal itu bisa diartikan wanita tersebut tidak paham adat, serta tidak sopan. Pakaian lembaran kain batik dimulai dari ujungnya masuk ke sebelah kiri pinggang pemakainya, dan ujung kain batik lainnya melingkari tubuh ke arah kanan. Sehingga ujung kain batik yang diwiru berada paling atas dan ke arah kanan pinggang pemakainya.


Ini berbeda dengan cara pemakaian kain batik bagi kaum pria. Dimulai dengan memasukkan ujung kain batik ke bagian kanan pinggang, lalu ditutupi kain batik yang melingkari pinggang memutar ke kanan, lalu ke kiri. Sehingga ujung kain batik yang dilipat-lipat (diwiru) berada di tengah menghadap ke kiri. Bagian atas kain batik (bagian pinggang) diikat dengan ikat pinggang (epek) serta kain pengikat pinggang yang panjang. Bagian ini tertutup oleh kain benting (ikat pinggang panjang) yang terbuat dari kain beludru bermotif kembang-kernbang. Kemudian tertutup oleh baju kebaya (untuk kaum wanita), atau beskap (untuk kaum pria). Dengan mengenakan busana Jawi lengkap termasuk sebilah keris yang terselip di lipatan ikat pinggang, dengan kepala ditutup blangkon (kuluk) untuk kaum pria, terasalah kebesaran jiwa.

Sementara kaum wanitanya dalam panutan busana batik dengan kain kebayanya yang membentuk potongan tubuh yang indah, terasakan keagungannya. Di luar upacara tradisional, misalnya pada suatu pasta perkawinan di luar keraton, kemeja batik atau gaun batik dengan pelbagai corak motif dan warnanya sudah merupakan busana resmi. Keanggunan seni batik tidak saja struktur warnanya yang serasi, juga corak lukisan batiknya yang penuh berisi filosofi dan penuh ragam sekaligus memberi ciri khas nilai seni budaya Jawa serta kebanggaan nasional.

SENI BATIK

Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan  bahan: kain, canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis, titik atau cerek, sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik.

Masih bertahannya seni batik sampai jaman moderen ini, tidak dapat dilepaskan adanya kebanggaan, adat tradisi, sifat religius dari ragam hias batik, serta usaha untuk melestarikan pemakai batik tradisional dan tata warna tradisional. Dilihat dari proses pembuatannya ada batik tulis dan batik cap. Dengan semakin berkembangnya motif dan ragam hias batik cap, mengakibatkan batik tulis tradisional mengalami kemunduran. Hal ini dapat dimengerti sebab batik tulis secara ekonomis harga relatif mahal dan jumlah pengrajin batik tulis semakin berkurang.

Sekarang ini ada beberapa daerah yang masih dapat dikatakan sebagai daerah pembatikan tradisional. Daerah yang dimaksud antara lain: Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Indramayu, Garut, Pekalongan, Lasem, Madura, Jambi, Sumatera Barat, Bali dan lain-lain.

Surakarta atau Surakarta Hadiningrat juga dikenal dengan nama Solo merupakan ibukota kerajaan dari Karaton Surakarta Hadiningrat. Surakarta merupakan pusat pusat pemerintahan, agama dan kebudayaan. Sebagai pusat kebudayaan Surakarta tidak dapat dilepaskan sebagai sumber seni dan ragam hias batiknya. Ragam hias batik umumnya bersifat simbolos yang erat hubungannya dengan filsafat Jawa-Hindu, misalnya :

  1. Sawat atau hase ‘sayap’ melambangkan mahkota atau perguruan tinggi.
  2. Meru ‘gunung’ melambangkan gunung atau tanah
  3. Naga ‘ular’ melambangkan air (tula atau banyu)
  4. Burung melambangkan angin atau dunia atas
  5. Lidah api melambangkan nyala api atau geni
Penciptaan ragam hias batik tidak hanya memburu keindahannya saja, tetapi juga memperhitungkan nilai filsafat hidup yang terkandung dalam motifnya. Yang dalam filsafat hidup tersebut terkandung harapan yang luhur dari penciptanya yang tulus agar dapat membawa kebaikan dan kebahagiaaan pemakainya. 

Beberapa contoh :

  1. Ragam hias slobong, yang berarti agak besar atau longgar atau lancar yang dipakai untuk melayat dengan harapan agar arwah yang meninggal dunia tidak mendapat kesukaran dan dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Ragam hias sida mukti, yang berarti ‘jadi bahagia’, dipakai oleh pengantin pria dan wanita, dengan harapan agar pengantin terus-menerus hidup dalam kebahagiaan.
Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa ragam hias dalam seni batik aturan dan tata cara pemakainya menyangkut harapan pemakainya. Disamping itu, khusus di Karaton Surakarta, ragam hias batik (terutama kain batik) dapat menyatakan kedudukan sosial pemakainya, misalnya ragam hias batik parang rusak barong atau motif lereng hanya boleh dipakai oleh raja dan putra sentana. Bagi abdi dalem tidak diperkenankan memakai ragam hias tersebut.

Seni batik bagi Karaton Surakarta merupakan suatu hal yang penting dalam pelaksanaan tata adat  busana tradisional Jawa, dan dalam busana tradisional  ini kain batik memegang peranan yang cukup penting bagi pelestarian dan pengembangan seni budaya jawa kedepan

Wuku - Horoscope Jawa

Wuku
(Horoscope jawa)

Sejarah Wuku

Wuku adalah perlambang dari sifat-sifat manusia yang dilahirkan pada hari-hari tertentu seperti layaknya horoskop atau perbintangan yang kita kenal. Adapun maksud dan tujuan diciptakan wuku oleh para leluhur Jawa ,adalah untuk mengetahui karakter manusia  pada sisi kebaikkan dan keburukkannya ,saat-saat sialnya, dan doa penangkal dan  keslamatannya.
Adapun sejarah asal-usulnya wuku yang berjumlah 30 macam sebagai berikut :
Di ceritakan ada dua putri bersaudara yang bernama dewi Shinta dan dewi Landep, dua-duanya diperistri oleh seorang pandita yang bernama resi Gana., resi Gana ini adalah putra ari bethara Temburu dalam ceritanya dalam memperistri dua putri tersebut, resi Gana belum mendapatkan putra dan cintanya dikarenakan usianya yang sudah tua serta berburuk rupa, pada suatu malam karena cinta kasihnya pada salah satu istrinya ( dewi shinta ) sang Resi mendapatkan kekecewaan karena perilaku sang dewi Shinta tersebut.
Sehingga menyebabkan sang Resi menjadi muksa ( menghilang secara gaib ). Pada saat itu sang Resi sempat mengucap / bersabda kepada dewi Shinta “ Pada suatu kelak nanti wiji yang tertanam dalam rahimnya akan menghasilkan anak laki-laki agar diberi nama “
Raden Watu Gunung “ Singkat cerita dewi Shinta akhirnya hamil dan mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama seprti sabda tersebut, sang bayi menjelang akhir dewasa nafsu makannya luar biasa / tidak lumrah seperti bayi-bayi yang lain, hingga pada sutau saat ketika dewi Shinta menanak nasi Raden Watu Gunung mengis sesengguhan, saking kesalnya dewi Shinta memukul dengan entong ( sendok nasi ) kemudian Watu Gunung kecewa sekali lalu pergi tanpa pamit.
Setelah selesai menanak nasi dewi Shinta mencari putranya, akan tetapi tidak pernah ketemu. Saking susah hatinya dewi Shinta dibantu dewi Landep bertapa di pedepokan ( rumahnya ) dalam pertapaannya akhirnya dua putri tersebut mendapatkan kesaktian yang luar biasa, sehingga banyak pandita-pandita yang lain banyak belajar ilmu dan ingin melamarnya. Tetapi semuanya ditolak, bahkan ada seorang resi yang sangat sakti pun yaitu Resi Tama bahkan ingin memaksanya untuk memperistrinya. Hal ini mengakibatkan dua putri tersebut lari tunggang langgang, inipun masih dikejar resi Tama. Para Pandita yang lain mendaptkan kabar ini akhirnya berbalik menjadi belas kasihan dan akhirnya memburu sang Resi Tama. Dalam peperangan sang Resi Tama dapat mengalahkan semua resi-resi tersebut, bahkan terus mengejar dua putri tersebut sampai ke negara Medangkamulan dengan rajanya Manuk Madewa yang masih berdarah betara Brahma, dengan patihnya berjuluk Patih Citro Dana. Di negara inipun sang Prabu Manuk Madewa juga kasamaran terhadap kecantikan kedua putri tersebut. Sang Putri agaknya mau dengan syarat : “ Bisa mengalahkan sang Resi Tama yang mengejar-ngejar tersebut “ akhirnya dikerahkan bala tentara untuk memerangi sang resi Tama dibawah pimpinan patih Citra Dana, namun dalam peperangan tersebut prajurit dari negeri Medang Kamulam kocar-kacir.
Diceritakan Raden Watu Gunung setelah terpukul oleh entong ( sendok makan ) tersebut sampai di hutan Selo Gringging, luka dikepala akibat pukulan ibunya akhirnya sembuh sendiri dan berbekas. Pada suatu saat Raden Watu Gunung bertemu dengan masyarakat di sekitar hutan tersebut yang sedang mengadakan kendurian atau keselamatan, Raden Watu Gunung ikut dalam selamtan tersebut namun banyak melahap makanan yang disajikan diluar batas kewajaran. Sehingga mengakibatkan kemarahan masyarakat akhirnya dianiaya berramai-ramai, dalam penganiayaan tersebut ternyata Raden Watu Gunung tidak merasakan kesakitan bahkan terus melahap makanan yang tersaji, hal ini mengakibatkan keheranan masyarakat yang akhirnya malah sang Raden Watu Gunung dijadikan Raja diwilayah tersebut, bahkan dibuatkan keraton dan diangkat raja dengan gelar Prabu Watu Gunung. Pada suatu ketika sang Prabu mendengar cerita bahwa di negara Medang Kamulan terjadi peperangan yang disebabkan seorang Resi Tama sedang memperebutkan dua orang putri yang cantik jelita, sehingga Prabu Watu Gunung pun ingin ikut memperrebutkannya. Akhirnya Prabu Watu Gunung bertolak ke negara Medang Kamulan lalu berhadapan langsung dengan sang Resi Tama. Bahkan akhirnya dapat mengalahkan Resi Tama. Namun ketika Resi Tama dapat dikalahkan Raden Watu Gunung, yang terdengar kabar di istana Medang Kamulan adalah patihnya yang bernama Citra Dana dalam perjalanannya menuju ke istana sang patih tersebut dielu-elukan, bahkan sang Prabu Manuk Madewa ikut membangga-banggakan atas kesaktian patihnya. Hal ini terdengar oleh Prabu Watu Gunung, yang menyebabkan kekecewaannya.
Singkat cerita terjadi peperangan lagi antara Prabu Watu Gunung dengan Prabu Manuk Madewa yang akhirnya Prabu Manuk Madewa tewas. Dan akhirnya menjadi raja di Medang Kamulan yang kemudian kerajaan tersebut diganti nama negara Giling Wesi, bahkan dua orang putri tersebut diangkat sebagai permaisurinya. Diceritakan lagi setelah istri sang Prabu Watu Gunung, dewi Shinta melahirkan putra yang selalu kembar sampai 13 kali ( kecuali yang nomor 14 ) sehingga jumlah putra sang prabu 27 :  
1.      Raden Wukir kembar dengan Raden Kurantil
2.      Raden Tolu kembar dengan Raden Gumbreg
3.      Raden Warigalit kembar dengan Raden Warigagung
4.      Raden Djulungwangi kembar dengan Reden Sungsang
5.      Raden Galungan kembar dengan Raden Kuningan
6.      Raden Langkir kembar dengan Raden Mandasija
7.      Radem Djulungpujud kembar dengan Raden Pahang
8.      Kuruwelut kembar dengan Raden Marakeh
9.      Raden Tambir kembar dengan Raden Madangkongan
10.  Maktal kembar dengan Raden Wuje
11.  Raden Manail kembar dengan Raden Prangbakat
12.  Raden Bala kembar dengan Raden Wugu
13.  Raden Wajang kembar dengan Raden Kuwalu
14.  Raden Dukut tidak kembar  
Singkat cerita pada suatu ketika dewi Shinta diperintahkan untuk mencari kutu di kepala Sang Prabu Watu Gunung, betapa terkejutnya sang dewi Shinta melihat bekas luka kepala sang prabu, yang mengingatkan kejadian putranya di waktu dulu, sang prabu bahkan sempat menceritakan asal mualasan luka tersebut, yang ternyata dewi shinta adalah ibunya sendiri terjadilah keharuan yang luar biasa, betapa berat cobaan hidup ini, dan betapa memalukan kejadian ini. Sehingga diniatkan jangan sampai rahasia ini diketahui orang lain, sambil menangis dewi Shinta berkata “ Sababing Karuna Ajalaran Saking Kepengine Duwe Maru Widodari Kahyangan “ yang artinya tangisnya dikarenakan keinginan untuk mengawinkan anaknya dengan sang bidadari kahyangan. Dikarenakan keterlanjuran cintanya pada sang dewi Shinta sang Prabu mengumpulkan semua putranya dan memerintahkan prabu Raden Prangbakat untuk naik ke kahyangan bertemu dengan Bathara Guru lalu memohon seorang bidadari bernama dewi Sri untuk diperistri sang Prabu dengan cara tebak-tebakan.
Diceritakan di kahyangan: Djunggring Salaka Sang Hyang Guru : Resi Narada didatangi oleh Raden Prangbakat atas pesan bapaknya : dengan membawa dua buah ayam peking dimana Bathara Guru (putra Bathara Wisnu) dipersilahkan menebak mana yang jantan dan mana yang betina. Bathara Wisnu menjawab “yang betina adalah yang bertelinga bolong dan yang jantan yang bertelinga mampat”. Namun dalam ceritanya di kahyangan niat Watu Gunung dianggap merusak tatanan wilayah kahyangan kemudian Bathara Wisnu memimpin untuk (Ngluruk)-mendatangi sang Prabu di Gilingwesi akhirnya terjadilah peperangan para dewa dengan sang prabu didahului dengan perang putra-putra sang prabu yang dikepung oleh pasukan para dewa. Dalam peperangan tersebut yang dipimpin oleh Prabu Watu Gunung sendiri ternyata sulit dikalahkan. Akhirnya Bathara Wisnu mencari tahu kelemahan sang prabu dari putranya sendiri yaitu Raden Srigati yang kemudian Raden Srigati mengutus Wil Awuk sebagai mata-mata untuk mengetahui kelemahan Watu Gunung. Wil Awuk merubah dirinya menjadi ular kecil (ulo kisi) diceritakan Wil Awuk berhasil masuk ke tempat pelaminan sang prabu yang pada saat itu sedang menceritakan tentang kesaktiannya kepada sang dewi Shinta yang disana sempat diceritakan tentang rahasia kelemahan sang prabu dimana hari naasnya jatuh pada hari anggara kasih jam 12 siang (bedug awan) yaitu pada hri yang sama saat kelahiran Raden Galungan yang juga bersamaan saat Watu Gunung mengalahkan Prabu Manuk Madewa. Kelemahan ini akhirnya dipakai oleh Bathara Wisnu untuk menumpas kerajaan Gilingwesi dan akhirnya tumpaslah sudah kerajaan tersebut. Pada akhirnya diceritakan dewi Shinta dan dewi Landep masih hidup dan menangis memohon Sang Hyang Jagad Noto untuk memohon keadilan kemudian turunlah Resi Narada diutus untuk memberitahukan sebab musababnya yang ternyata disebabkan kesalahannya sendiri yaitu memberitahukan kelemannya kepada Sang Dewi Shinta dimana terdengar oleh Wil Awuk.
Sebagai gantinya sang dewi akan dikabulkan permintaannya asalkan tidak meminta hidupnya kembali sang Watu Gunung besarta putranya sedangkan permintaan sang dewi Shinta hanya ingin Watu Gunung dan semua putranya dimaafkan kesalahannya dan masuk surga bersama-sama dengan dewi Landep. Permohonan ini dipenuhi oleh Sang Hyang Jagad dimana urut-urutan masuk surga adalah :
1.      dewi Shinta
2.      dewi Landep
kemudian diikuti ke-27 putranya yang terakhir Watu Gunung (no 30)
oleh Bathara Wisnu ke tiga puluh nama tersebut dijadikan dasar perhitungan Wuku
WUKU dan KELAHIRAN
Tiap-tiap wuku mempunyai watak sendiri-sendiri. Watak wuku dapat dipergunakan untuk mengetahui dasar watak bayi lahir :  
1. Sinta..dewanya sangyang Yamadipati = seperti pendita, wataknya seperti raja, banyak tingkah, keras, bahagia, kaya harta benda. Memanggul tunggul = mempunyai kesenangan hidup. Kaki belakang direndam dalam air = perintahnya panas depan dingin belakang. Pohonnya : Kendayakan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat.
Burungnya : Gagak = mengerti petunjuk gaib. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : Setengah umur. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau seharga 21 keteng dimasak pindang, membelinya tidak menawar. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Tolak bilahi. Candranya : Endra = gemar bertapa brata, angkuh, suka kepada kepanditan. Ketika kala wuku berada ditimu laut, selama 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
2. Landep.dewanya sangyang Mahadewa = bagus rupanya, terang hatinya, gemar bersemadi. Kakinya direndam dalam air  = perintahnya keras didepan kendur  dibelakang, kasih sayang. Pohonnya : Kendajakan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burungnya : Atatkembang = jadi kesukaan para agung, jika menghambakan diri jadi kesayangan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. 
Bahayannya : korobohan pohon. Tangkalnya : Selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus. Lauknya daging rusa dicacah lalu dibakar. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Surating raditya = tajam ingatannya, dapat mengerjakan segala pekerjaan, dapat menggrirangkan hati orang lain.  
3. Wukir.dewanya sangyang Mahayekti = besar hatinya, menghendaki lebih dari sesama. Tunggalnya : didepan = akhirnya hidup senang. Menghadapi air di jembung besar = baik budi pekertinya. Pohonnya : Nagasari = bagus rupaya, sopan-santun, jika bekerja dicintai oleh majikannya. Burungnya : Manyar = tak mau kalah dengan sesama, dapat mengerjakan segala pekerjaan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : dianiaya.
Penaangkalnya : selamatan nasi uli, beras sepritah dikukus, daging ayam ayam putih dimasak pakai santan dan sayur lima macam. Selawatnya 4 keteng. Doanya rajukna. Candranya : Gunung artinya jika didekati sulit dan berbahaya jika dilihat dari jauh menyedapkan pemandangan. Ketika kolo wuku berada ditenggara, dalam 7 hari tidak boleh mendatangi tempat kolo.
4. Kurantil.dewanya sangyang Langsur = pemarah. Memanggul tunggal = akhirnya mendapat kesenangan hidup. Air dalam jimbung besar disebelah kiri = serong hatinya. Pohonnya : Ingas = tak dapat untuk berlindung, karena panas. Burungnya : Salinditan = tangkas. Gedungnya terbalik didepan = murah hati. Bahayanya : jatuh memanjat.
Penangkalnya : selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam lereng dipecal. Selawatnya 7 keteng. Doanya : rajukna dan pina. Candranya : Woh-wohan = tak tentu rejekinya.Ketika kolo wuku berada dibawah, dalam 7 hari tak boleh turun dari gunung dan tak boleh menggali tanah.
5. Tolu.dapat menyenangkan hati orang lain, kalau marah berbahaya, tak dapat dicegah, Tunggulnya : dibelakang = kebahagiannya terdapat dibelakang hari. Pohonnya : Wijayamulya = sangat indah rupanya, tajam roman mukanya, tinggi adat-istiadatnya, teliti, suka pada kesunyian, selamat hatinya. Burungnya : Branjangan = riang tangan, cepat bekerjanya. Gedungnya didepan = suka memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya = ditanduk atau disiung.
Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam dimasak dengan santan. Selawatnya 3 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Wangkawa = angkuh, tidak tetap, suka bohong.Ketika kolo wuku berada dibarat-laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
6. Gumbreg.dewanya sangyang cakra = keras budinya, segala yang dikehendakinya segera tercapai, tak mau dicegah, pengasih. Kakai sebelah yang didepan direndam dalam air = perintahnya dingin didepan, panas dibelakang. Pohonnya : beringin = jadi pelindung keluarganya, budinya tinggi. Burungnya : ayam hutan = liar, dicintai oleh para agung, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya dikirikan = penyayang, jika marah taka sayang kepada harta bendanya.
Bahayanya : tenggelam atau kejatuhan dalam. Tangkalnya : selametan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam berumbun yang masih muda dan daun-daun 9 macam. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Rajukna. Candranya : Geter nekger ing wijati = hening pikirannya, perkataannya nyata redhoan.Ketika “kala wuku” berada di Selatan menghadap utara, dalam 7 hari tidak boleh memandang wajah kala.
7.  Warigalit, dewanya sangyang asmara = bagus rupanya sering lawin, cemburuan, sedihan hati, sulit dijalani, tidak mau berhenti. Pohonnya : sulastri = bagus rupanya, banyak yang cinta. Burungnya : kepodong – cemburuan, tak suka berkumpul dengan orang banyak. Bahayanya : tersangkut suatu perkara.
Tangkalnya : selametan nasi urap beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau ranjapan (pembelian bersama-sama), dimasak getjok. Selawatnya 8 keteng. Doanya : tolak bilahi. Candranya : kaju kemladean ngajak sempal = dimana-mana dapat tumbuh. Ketika “kala wuku” berada diatas, dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.
8.  Warigagung, dewanya sanghyang mahajekti = berat tanggungannya, berkeinginan. Tunggulnya : dibelakang – rejekinya dibelakang hari. Pohonnya : cemara = rame bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati. Burungnya : betet = keras kemauannya, pandai mencari kehidupan. Gedungnya dua buah dibelakang  dan didepan = ichlasnya hanya setengah. Bahayanya : dimarahi temannya.
Penangkalnya : selamatan nasi uduk bers sepitrah dikukus, lauknya daging bebek dimasak gurih dan daun-daunan 5 macam. Selawatnya 5 keteng. Doanya : rasul. Candranya : Ketug lindu = menepati perkataannya, jika marah menakutkan, tidak mau menerima takdir. Ketika “kala wuku” berada di utara menghadap ke selatan, dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.
9.  Julungwangi, dewanya sanghyang sambu = tinggi perasaannya, tidak boleh disamai. Mengahadap air dijembung = pradah ikhlasan, akan tetapi harus diperlihatkan harum = dicintai oleh orang banyak. Burungnya kutilang = banyak bicara dan perkataannya dipercayai orang, dicintai para pembesar.
Bahayanya : diterkam harimau. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam brumbun dan uang suwang (+/- 81 ½ sen). Selawatnya : kucing. Doanya Tolak bilahi. Candranya : kasturi arum angambar = segala kehendaknya belum terjadi telah tersiar banyak yang cinta.
10. Sungsang, dewanya sanghyang gana = pemaranh, gelap hati. Air dijebung didepannya +/- pradah, ikhlasan, harus diperlihatkan pemberiannya, banyak rejekinya. Pohonnya : tanganan = tak suka menganggur, keras budinya, suka kepada kepunyaan orang lain. Burungnya : nori = pemboros, jauh kebahagiaannya, murka. Gedungnya terbalik dibelakang = ikhlasan dengan tidak pakai perhitungan. 
Bahayanya : kena besi. Tangkalnya : selamatan nasi megana dan tumpeng betas 2 pitrah, daun-daunan 9 macam dicampur dalam tumpeng. Selawatnya 10 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : sekar wora-wari bang = besar amarahnya, tetapi mudah dicegah. Ketika “kala wuku” berada di timur dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.
11. Galungan, dewanya sangyang Komajaya = tetap hatinya, dapat melegakan hati susah, cinta pada perbuatan baik, jauh kepada perbuatan jahat. Memangku air dalam bokor =suka bersedekah, pengasih, sedikit rejekinya. Pohonnya : Tanganan  = ringan tangan, tak mau berhenti, keras budinya, suka kepada kepunyaan orang lain. Burungnya : Bido = besar nafsunya, murka.
1.    Bahayanya : berselisih.Penangkalnya : selamatan nasi beras sepitrah dikukus, lauknya daging kambing. Doanya : Selamat pina. Candranya : peksi wonten ing luhur = jika mencari hasil dengan menundukkan kepala, sebab gora-goda. Ketika kolo wuku berada di selatan daya, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
12. Kuningan, dewanya sangyang Indra = melebihi sesama, tinggi derajatnya. Pohonnya : Wijayakusuma = rupanya sangat indah, sangat puaka, tinggi budinya dan teliti, menghindari keramaian, selamat hatinya. Burungnya : Urang-urangan = cepat bekerjanya, lekas marah, pemalu. 
1.     Gedungnya dibelakang, jendelanya tertutup = hemat. Bahayanya = diamuk..Penangkalnya : selamatan nasi punar beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau membelinya beramai-ramai, digoreng. Selawatnya 11 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Garojogan = rame bicaranya, banyak bohong.Ketika kolo wuku berada di Barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
13. Langkir, dewanya sangyang Kala menggigit bahunya sendiri = besar nafsunya, tidak sayang kepada badannya sendiri, yang melihat takut, buruk adat-istiadatnya, tidak mau menurut, murka, banyak larangan. Pohonnya : Ingas dan cemara tumbang = panas hati, tak boleh didekati orang,
2.      Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah dikukus, lauknyadaging kambing dan ikan dimasak pakai santan, sayuran secukupnya. Selawatnya 5 keteng. Doanya : Slametpina. Candranya : Redi gumaludug = bicaranya menakutkan, tetapi tidak mengapa.Ketika kolo wuku berada di selatan daya, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
14. Mandasia,dewanya sangyang Brama, kuat budinya, pemaran, tak mau memberi ampun, jika marah tak dapat dicegah, tegaan. Pohonnya : Asam = kuat dan dicintai orang banyak, jadi pelindung sengsara. Burungnya : Platukbawang = kuat budinya, cepat pekerjaannya, tidak sabaran. Gedungnya terguling didepan = hemat dan banyak rejekinya. Bahayanya : Kena api dan dijahili orang.
3.     Penangkalnya : selamatan nasi merah beras sepitrah dikukus, sayur bayam merah, daging ayam merah dipindang dan bunga setaman yang merah. Selawatnya uang baru 40 keteng. Doanya : Slamat. Candranya : Watu item munggeng papreman lan wreksa gung lebet tancepnya = sabar, tetapi jika marah kejam.Ketika kolo wuku berada diatas, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
15. Djulungpujut, dewanya sangyang guretno, = suka kepada keramaian, tersiar baik, mempunyai kedudukan yang lumayan. Menghendaki bukit = besar kemaunnya, tak suka diatasi, menghendaki memerintah. Pohonnya : Rembuknya = indah warnanya, tidak berbau, dimana-mana jadi kunjungan orang. 
Burung : Prijohan = besar kemauannya, halus budinya. Bahayanya : diteluhPenangkalnya : selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus, daging ayam merah dipanggang, daun- daunan 9 macam. Selawatnya 30 keteng. Doanya : Balasrewu dan Kunut. Candranya : Palwa ing samodra = kesana-kemari mencari nafkah, rejekinya tidak kurang.Ketika kolo wuku, berada di utara dan selatan, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
16. Pahang, dewanya sangyang tantra = perkataannya melebihi sesama, tidak sabaran menepati janji. Jembungnya disebelah kiri dibelakangnya = suka jalan serong. Memanggul senjata tajam = waspada, kasar perkataannya, panas hati, suka bertikai. Pohonya : Kendayaan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burung : Cocak = gelatak bicaranya. Gedung telentang = boros. 
Bahayanya : dianiaya.Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah, lauknya daging ayam dimasak sansan, daun-daunan 11 macem. Selawatnya 9 keteng. Doanya : Rasul.Candranya : Pulo katinggal saking tebih = tersiar semua tingkah lakunya, lahirnya suci, batinnya kotor, angkuh, selalu susah.Ketika kolo wuku berada di Barat-Laut dalam 7 hari tak boleh mengunjungi tempat kala.
17. Kuruwelut, dewanya sanhyang wisnu : tajam ciptanya, tinggi dan selamat budinya, melebihi sesama dewa. Memanggul : cakra = tajam hatinya, berhati-hati. Pohonnya : parijata = jadi pelindung dan besar kebahagiaannya. Burungnya : puter = jika berbicara mula-mula kalah, akhirnya menang, tidak pernah bohong, tidak suka terhadap perkataan yang remeh. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, puaka tak dapat dipermudah. 
6.      Bahayanya : kena racun daun. Tangkalnya : selamatan bermacam-macam sayuran, jajan pasar, sekar boreh, tindihnya uang lama sebaranDoanya : tawil. Candranya : tirta wening = sedikit bicaranya, suci hatinya, diturut perintahnya, jadi tempat pengungsian. Ketika “kala wuku” berada diatas, dalam 7 hari tidak boleh mendatangitempat kala.  
18. Mrakeh, dewanya sangsyang surenggana = tawakal hatinya, agak ingatan, berkesanggupan, berani kepada kesulitan. Tunggulnya membalik = lekas hidup senang. Pohonnya : Trengguli = buahnya tidak berguna. Tak mempunyai burung = tak boleh disuruh jauh, tentu mendapat bahaya. Gedungnya dipanggul = memperlihatkan pemberian. Bahayanya : tenggelam. 
7.     Tangkalnya : selamatan nasi uduk, daging ayam mulus dimasak dengan santan dan bermacam-macam ketan. Selawatnya 100 keteng.Doanya : tolak bilahi. Candranya : pandam ageng amerapit = tawakal, mempunyai hati kasihan kepada orang miskin. Ketika “kala wuku” berada di utara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
19. Tambir, dewanya sanghyang siwa = lahir dan batinnya berlainan. Pohonnya : Upas = tak dapat untuk berlindung, panas perkataannya. Burungnya : prenjak = sombong, suka membuat perkabaran yang mengherankan, tahu petunjuk gaib. Gedungnya 3 tertutup semua = lokek dan dengki, tak bisa kaya hanya cukup saja. Bahayanya : terkena pasangan. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah diliwet, lauknya daging bebek dan ayam dipindang, kuah merah dan putih dan ketimun 25 buah.
8.     Selawatnya : pisau baja dan jarum satu. Doanya : slamet pina. Candranya : idune lir upas ratjun = dihargai semua perkataannya. Ketika “kala wuku” berada di barat daya, dalam 7 hari tidak boleh mengunjungi tempat kala.
20. Madangkungan, dewanya sanghyang basuki : ahli bicara, tawakal, tetap hatinya. Pohonnya : plasa = hanya jadi perhiasan hutan, tidak ada gunanya. Burungnya : pelug = suka tinggal di air, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya di atas = mendewa-dewakan kekayaannya, tawakal, hemat. Bahayanya : dibunuh pada waktu malam. Tangkalnya
9.      selamatan nasi punar beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam kuning (wiring kuning) dan berumbun, digoreng, jenang merah pada waktu hari kelahirannya. Selawatnya : 5 keteng. Doanya : ngumur. Candranya : umajang kang tetabuhan = menepati perkataan, dan dapat menyenangkan hati orang lain. Ketika “kaa wuku” berada di timur, dalam 7 hari tak boleh mendatangi kala.
21. Maktal, dewanya sanghyang sakri = burus hatinya, baik pekerjaannya. Pohonnya : nagasari = bagus rupanya, lemah lembut tutur katanya, dicintai oleh pembesar. Burungnya : ayam hutan = liar dan tinggi budinya, banyak tanda-tandanya akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya ditumpangi tunggal = kaya benda dan dihormati. Bahayanya = bertikai.
10.  Tangkalnya : selamatan nasi uduk, daging ayam dan bebek dimasak 2 macam, dipindang dan dimasak dengan santan, niatnya : ngrasul. Selawatnya 4 keteng. Doanya : rasul. Candranya : lesus awor lan pancawara = lebar pemandangannya, dalam pikirannya. Ketika “kala wuku” berada di timur laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi kala.
22. Wuje, dewanya betara kuwera = menggirangkan hati orang lain, perkataannya lurus dan mengherankan, singkat hati, tetapi sebentar baik. Memasang keris terhunus disebelak kaki = waspada dan tajam hatinya. Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar tanda kebahagiannya, kuat dan tetap hatinya. Burungnya : gogik = cemburuan, tak suka kepada keramaian. Gedungnya terlentang didepan = pengasih.
      Bahayanya : diteluh. Tangkalnya : selamatan jajan pasar secukupnya dan bermacam-macam ketan seharga sataksawe (+/- 10 sen). Yang dibeli dahulu madu untuk selanunggal rum arum = peteng hati, sukar dijalani, suka kepada bau harum, besar kehendaknya. Ketika “kala wuku “ berada di barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
23. Manahil, dewanya sangyang Citragatra = menjunjung diri sendiri, dapat berkumpul ditempat ramai, angkuh, selalu bersedia-sedia untuk membela diri. Air dijembung dibelakangnya = Arum perintahnya, akan tetapi tak mempunyai pangkat. Memangku tombak terhunus = waspada dan tajam hatinya.
       Pohonnya : Tageron = sedikit faedahnya, liat hatinya. Burungnya : Sepahan = liar budinya, tajam pikirannya. Bahayannya : terkena senjata tajam.Penangkalnya : selamatan nasi liwet beras sepitrah, lauknya daging ayam dan ikan, sayuran secukupnya, sambal gepeng. Selawatnya 8 keteng. Doanya : Selamat tolak bilahi. Candranya : Trenggana abra ing wijit = sabar segala kemauannya, tak suka menganggur, banyak kemauannya.Ketika kala wuku berapa di Tenggara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
24. Prangbakat, dewanya sangyang Bisma = pemarah, tangkas, pemalu, memperlihatkan watak prajurit, menghendaki jadi pemimpin orang, lurus pembicaraannya, segala yang dikehendaki tak ada sukarnya. Kakinya kanan direndam dalam air jembung = perintahnya dingin didepan panas dibelakang. Pohonnya : Tirisan = panjang umurnya, cukup rejekinya, tetap pikiranya.
Burungnya : urang-urangan = cepat kerjanya. Bahayanya : memanjat atu karena tingkahnya sendiri. Tangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah, lauknya daging sapi, dimasak bumbu manis, sayuran secukupnya. Selawatnya : pacul. Doanya : aelamat pina. Candranya : wesi trate pulasani = keras hatinya, cepat kerjanya, pemberi, jujur, belas kasihan. Ketika “kala wuku” berada dibawah, dalam 7 hari tak boleh turun dari gunung dan menggali tanah. 
25. Bala, dewanya batari Durga = suka berbuat huru-hara, takut yang mendengar, jahil, suka bercampur dengan kejahatan, tak asa yang ditakuti, pandai sekali bertindak jahat. Pohonnya : cemara = ramai bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati.
Burungnya : Ayam hutan = liar budinya, dicintai oleh pembesar, tinggi budinya, banyak tanda-tanda akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat yang sunyi. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah dilahir. Bahayanya : diteluh dan kena upas.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, sayur 7 macam, panggang ayam hitam. Selawatnya 40 keteng. Doanya : Rajukna : Udan salah mangsa = rejekinya dari jual beli.Ketika kala wuku berada di Barat-Laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
26. Wugu, dewanya sangyang Singajala = banyak akal, lekas mengerti, baik budinya. Pohonya : Wuni sedang berbuah = siapa yang melihat bagaikan mengidam, akantetapi jika telah makan, mencela, banyak rejekinya. Burungnya : Podang = cemburuan, tidak suka berkumpul. Gedungnya tertutup dibelakang = hemat dan pendia. Bahayanya : digigit ular dan disia-sia.
Penangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus dan bermacam-macam ketan, jajan pasar, lauknya daging bebek putih sejodoh dimasak dengan santan. Selawatnya 10 keteng. Doanya: Selamat. Candranya : awang-uwung = baik budinya.Ketika kala wuku berada di sebelah Selatan, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
  27. Wayang, dewanya batari Sri = banyak rejekinya, pradah, bakti, teliti, dingin perintahnya dicintai oleh orang banyak. Jembung berisi air didepan dan duduk disitu = sejuk hatinya, sabar, rela hati, akan tetapi harus diperlihatkan pemberiannya. Pasang keris terhunus = perintahnya mudah didepan, sukar dibelakang. Pohonnya = Cempaka = dicintai oleh orang banyak
3.     Burungnya = Ayam hutan = dicintai oleh pembesar, liar budinya, angkuh, senang tinggal ditempat yang sunyi. Bahayanya : kenah tulah dan difitnah.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, daging kambing kendit dimasak macam-macam ketan, ayam dimasak sesukanya, sayuran secukupnya. Selawatnya 40 keteng. Doanya : selamat. Candranya : damar murub, bumi langit = selamat, banyak ilmunya.Ketika kolo wuku berada diatas, dalam 7 hari tak boleh naik.
28. Kulawu, dewanya sangyang Sadana = kuat budinya, besar harapannya. Duduk dijembung berisi air ditepi kolam = sejuk hatinya, dingin perintahnya. Membelakangi senjata tajam = pikirannya terdapat dibelakang, agak tumpul. Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar harapannya, kuat budinya.
4.      Burungnya : Nori, boros, murka. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : terkena bisa. Penangkalnya : selamatannasi golong beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam dan bebek yang berwarna merah, ikan dan daging burung, dimasak sekehendahnya. Selawatnya 5 keteng. Doanya : Kabula. Candranya : Bun tumetes ing sendang = ketika kecil miskin, akhirnya besar kebahagiannya, banyak rejekinya.Ketika kala wuku berada di Utara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
29. Dukut, dewanya sangyang Sakri = keras hatinya. Menghadapi keris terhunus = waspada, tajam pikirannya, segala yang dilihatnya ingin mempunyainya. Pohonnya : Pandan wangi = kiri tempatnya, dengki, tak boleh didekati. Burungnya : Ayam hutan = dicintai oleh para pembesar, liar dan tinggi budinya, besar harapannya, suka tinggal ditempat sunyi.
5.      Membelakangi gedungnya = hemat dan pendiam. Bahayanya : dimedan perang.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, lauknya panggang ayam putih mulus dan ayam brumbun. Selawatnya satakswawe. Doanya : Slamet. Candranya : tunggul asri sesengkeraning nata = bagus rupanya, penakut.Ketika kala wuku berada di Barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
  30. Watugunung, dewanya sangyang Antaboga dan batari Nagagini. Antaboga = senang tinggal dilaur kota untuk bertapa. Nagagini = gemar kepada asamara. Menghendaki janji = suka berapa ditempat yang sunyi, jika menjadi pendita, mendapat kehormatan, gemar bersemedi, sedihan hati. Pohonnya : Wijayakusuma = indah warnanya, sangat puaka, tinggi budinya, tidak suka pada keramaian, selamat hatinya, angkuh, teliti. Burungnya : Gogik = cemburu. Bilahinya : dianiaya.
Penangkalnya : selamatan beras sepitrah dikukus, lauknya daging binatang yang diburu, binatang berliang, burung, semuanya yang halal, dimasak bermacam-macam jenang, daun-daunan 7 macam. Selawatnya 9 keteng. Doanya : Mubarak. Candranya : Lintang wulan keraianan = terang hatinya, tetapi tidak bercahaya.Ketika kala wuku berapa di timur, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kolo.

Ajaran Asthabrata


AJARAN ASTHABRATA pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pankur, jumlah bait 35 buah. Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingi kesaktian Rama. Ia gugur olah panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan.   
Demikian antara lain diungkapkan Prof. DR. Marsoo (52), Dosen Fakultas Budaya Jurusan Sastra UGM, di hadapan peserta sarasehan Jumat Kliwonan Lembaga Javanologi, di nDalem Joyodipuran, Yogyakarta, pada 6 Juli 2001 y.l. Dalam sarasehan yang dihadiri 30 peserta, Marsono mengatakan, Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata 
Secara rinci Marsono menguraikan masing-masing ajaran dengan memberikan kutipan teks sebagaimana terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, Nitisruti dan Ramayana Kakawin Jawa Kuna.   
  1. Sang Hyang Indra adalah dewa hujan. Ia mempunyai sifat menyediakan apa yang diperlukan di bumi, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi.
  2. Sang Hyang Yama adalah Dewa Kematian. Ia membasmi perbuatan jelek dan jahat tanpa pandang bulu.
  3. Sang Hyang Surya adalah Dewa Matahari. Sifatnya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana.
  4. Sang Hyang Candra adalah dewa Bulai ia selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepad asiapa saja.
  5. Sang Hyang Bayu adalah Dewa Angin. Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau rumit di dunia dapat dikethaui olehnya tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang dilaluinya.
  6. Sang Hyang Kuwera adalah Dewa Kekayaan. Sifatnya ulet dalam berusaha mengumpulkan kekayaan guna kesejahteraan warga masyarakatnya. Ia sebagai penyandang dana.
  7. Sang Hyang Baruna adalah Dewa Samudera. Sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya. Namun samudera tidak tumpah. Hynag Batuna seperti samudera bisa menampung apa saja yang jelek ataupun baik. Ia sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera.
  8. Sang Hyang Brama adalh dewa Api . sifat api bisa membakar menghanguskan dan memusnahkan benda apa saja. Ia pun dapat memberikan pelita dalam kegelapan  Hyang Brama seperti api bisa membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedangdalam keadaan kegelapan.

Kalau dirangkum amanat asthabrata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin itu sebagai berikut : Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya: membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang; bersifat bijaksana, sabar , ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan dana bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, naik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya. Ajaran ini tetap relevan bagi para pemimpin kita hingga kini sampai ke masa depan.

Menurut pembicara, sejak awal tarikh Masehi bangsa kita, utamanya India,melalui hubungan perdagangan. Hubungan itu memberikan pengaruh, diantaranya masuknya agama Hindu dan Budha. Candi Prambanan yang bersifat Hindu dan Borobudur yang bersifat Budha merupakan peninggalan paling moumental diantara peninggalan lain. Relief cerita Ramayana dipahatkan pada dinding langkan candi Siwa dan Brahma. Selain di Prambanan, cerita yang sama juga dipahatkan pada candi Penataran, jawa timur, sedang pada candi Borobudur yang dibangun dinasti Syailendra sekitar abad ke 8 terdapat relief cerita perjalanan sang Budha dalam menuju jenjang manusia sempurna.


Prasati Sukabumi yang bernagka tahun 804 M pertama kali ditulis dalam bahasa Jawa Kuna. Bersamaan dengan itu mulailah terjadi budaya penulisan cerita Ramayana dalam bahasa Jawa Kuna.
Prof. DR. Purbacaraka berhasil menyalin dan menterjemahkan naskah Ramayana tertua yang sampai sekarang masih berupa tulisan ketikan. Prof. DR. Marsono menghimbau kepada yang berminat untuk membantu agar naskah itu dapat dicetak hingga dapat dinikmati oleh kalangan lebih luas 
Ramayana di India banyak versinya, diantaranya versi walmiki dan Bhattikawya. Yang menjadi sumber penulisan Ramayana Kawin Jawa Kuna adalah Ramayana Bhattikawya (Purbacaraka, 1957), bukan Ramayana Walmiki. Dari India cerita Ramayana ini menyebar ke negara asia lainnya, seperti Indonesia, laos, Kamboja, Birma, thailand dan Filipina. Dimasing-masing tempat dan jaman cerita Ramayana itu diakulturisasikan dengan kebudayaan setempat dan jamannya. Di Indonesia sekarang, cerita Ramayana dipakai sebagai dasar pertunjukan  wayang kulit maupun wayang orang serta pentas sendratari Ramayana  yang dipentaskan di candi Prambanan

Berbagai buku peninggalan pujangga kita memuat cerita Ramayana, di antaranya Ramayana Kakawin Jawa Kuna (abad ke 9), Serat Rama Jarwa Macapat Jawa Baru oleh Yasadipura II (1882), Serat Nitisruti (1612), Babad Sangkala (abad ke 19), Serat Partawigena (abad ke 19). Teks lakon Wahyu Makutha Rama abad ke 20. Diorama gambar wayang di Museum Purnabakti TMII juga merupakan cerita Ramayana

Tembang / Lagu Rakyat



PUTERI SOLO
Penyanyi :Waljinah
Putri Solo…
Dasare keporonyoto……Pancen Pinter Alelewo….Dasar PutriSolo……
Nganggo Selendang Pelangi…..Sumampir ono pundake…
Cunduke kembangmelati….Dadi lan pantese…….
Mung lakune koyo macan luwe……..
Sandal jepit pengangite……Kiyet kiyet suwarane…..
kelapkeliplah suwenge…Dasar putri solo………….
Putri Solo…….
Yen ngguyu dekik pipine ..ireng manis kulite…….
Dasar Putri solo….

WALANG KEKEK
Penyanyi :Waljinah
Caut jadi man ..paman…..Wong bedang kepalang….
Kali putung wote…..
Putong wote…putung wote he..he….
Tak sungguh ,pucung atine..dari mana……
Walang kekek menclok neng tenggok…
Kabur maneh menclok neng pari….
Ojo ngenyek yo..mas,karo wong wedok…..
Yen ditinggal lungo….setengah mati….
e..yaeyo…. yaeyo……… ,e yaeyo……….
yae……yaeyo eyaeyo…
Manuk sriti kecemplung banyu…Bengi ngimpi,awane ketemu……
Walang kekek menclok neng koro..Walang ijo walange putih……..
Bujang maneh..ora kluyuran…..Wong sing duwe bojo..ora tau mulih.
Biso nggambang ora biso nyuling…Biso nyawang ora biso nyanding
Walang kekek mabur mbrengengeng..Walang ireng dowo sotange…
Yen seneng ojo mung mandeng…Golekono ngendi omahe……
Walang kekek walange kayu…..Walang kayu tibo neng lemah…
Yen kowe seneng karo aku…
Yen mung trimo..tak kon tunggu omah….
Walang kekek….walange kadung…
Walang kekek sampun rampung

NDE ANDE LUMUT
Putraku si ande ande lumut….
Tumuruna ana putri kang unggah unggahi…..
Putriku kang ayu rupane………
Kleting kuning kang dadi asamane……
Bu…si Bu… kulo mboten purun…..
Puti niku sisane si yuyu kangkang…

YEN ING TAWANG ONO LINTANG
Yen ing tawang ono lintang cah ayu….aku ngenteni tekamu
Marang mego ing angkoso,nimas…
Sun takokne pawartamu
Janji janji aku iling,cah ayu…
Sumedot rasaning ati
Linang lintang ngiwi iwi,nimas..
Tresnaku sundul ing ati
Dek sakmono janjimu disekseni
Mego kartiko kairing
Raso tresno asih
Rungokno tangising ati
Ginarung swaraning ratri,nimas..
Ngenteni mbulan ndadari

CUBLAK CUBLAK SUWENG
Cublak cublak suweng…..suwenge ting gelenter……..
Mambu kutundung gudel…pak hempong, lera.. lere…
Sopo ngguyu ndelekake…………
Sir …sir…. pong ,dele gosong………..

SLUKU SLUKU BATOK
Sluku sluku batok batoke ela.. elo…
Siromo menyang solo
Oleh olehe payung muta
Mak jentit, lolobah,wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah,
Yen urip golek duwit

YO.. ! DOLANAN DAKON
Yo ..dolanan dakon….
Watu item…
Cacahe pitu……..
Neng alun alun….
Karo sarijem…….

BANG BANG TOT
Bang bang tot,cendelo ewo ewo …
Sopo wani ngentut,ditumbak rajabrono……
Nyangkali ngiseni kendi,
Jeruk purut adah entut….!

GUNDUL PACUL
Gundul gundul pacul cul..gembelengan..
Nyunggi nyunggi wakul..kul… gembelengan
Watu ngglimpang segane dadi sak latar………

ABRIT AKING
Britaking….brit.aking,kandang Jeruk kan emas,
Sokobomo sokaboma…bomane rade janoko…
Jenta jentit jonoloka…………

GAMBANG SULING
Gambang suling kepenak unine…
Tulat tulit..kumandang swarane ..
u…unine mung..nrenyuhake..
Bareng lan kencrung…
Ketipung suling…
Sigrak kendandangane…..

NDOK IYEK
Ndok iyek …ndok….
Mbokmu lunga mbatik….
Di dicegat londo burik……
Jer jer mencokko pager

KODOK NGOREK
Kodok ngorek… kodok ngorek…..
Ngorek neng blumbangan…..
Teot…teblung ,teot…. teblung..
Teot teot …teblung…………

PADANG MBULAN
Yo..prokonco dolanan ono njobo..
Padang mbulan padange koyo rino…
Rembulane…
Sing ngawe ..awe..
Ngelekake…ojo podo turu sore….

KIDANG
Kidang…talun…
Mangan kacang talun.
Mil ketemil mil ketemil
Si kidang mangan lembayung

Gamelan

GAMELAN
Simponi Musik Jawa Bercita Rasa Keselarasan Hidup
Untuk menata segala kehidupan menjadi selaras dalam kehidupan duniawi dan rohani/batin adalah pandangan hidup dan kesehari-harian masyarakat jawa pada umumnya, misalnya cara berbusana yang serasi (tidak kontras, tidak seronok, tidak selalu mencari perhatian), keselarasan dalam berbicara meskipun sedang dalam emosi batin yang meledak-ledak tetap berusaha santun dalam mengungkapkan isi hatinya. Ngono ya ngono nanging aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu) adalah peribahasa jawa dalam mengungkapkan keselarasan dapat menahan emosi.
eselarasan berarti dirinya dapat mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang laras, harmonis dan tidak menimbulkan kegoncangan. Saling menjaga diri, saling menjaga cipta, rasa, karsa dan perilaku, adalah pandangan hidup dan realitas hidupnya walau terjadi ritme-ritme karena dinamika kehidupan masyarakat. Dari sini maka irama Gendhing/musik dari Gamelan termasuk tembang jawa itu disusun dan dibuat.
Anda bisa memperhatikan urut-urutan dari alat gamelan ketika dibunyikan dalam sebuah irama Gending. Perhatikan saja tarikan dari tali rebab, disusul bunyi suara dari bilah-bilah logam kuningan yang disebut slentem, lalu bunyi saron, kendhang, kenong, gambang, dan lain-lainnya, yang selalu diakhiri suara gong di penghujung bait irama gendhing. Disini, muncul keselarasan jiwa dan rasa. Namun, jika ditanyakan sejak kapan dan siapa yang awalnya membuat, sulit untuk dilacak. Yang jelas sudah sangat tua, dimana Anda dapat melihat pada relief Candi Borobudur (abad VIII).
Boleh jadi perkembangannya dimulai dari kenthongan, tepukan tangan, pukulan ke mulut, gesekan pada tali/bambu tipis, dsbnya. L alu alat musik jawa itu berkembang dalam bentuk bilahan kayu, bambu atau lempengan besi, lembaran kulit dan bambu yang dilubangi.
etelah menjadi seperangkat alat musik jawa bernama Gamelan, maka mulailah digunakan yang mula-mula untuk mengiringi tarian, dan semakin semarak karena di dukung lagu (tembang) oleh penyanyi (swarawati/wiraswara). Kemudian berfungsi pula untuk menyemarakkan upacara-upacara di lingkungan Karaton maupun di tempat-tempat upacara pemujaan. Namun yang paling intensif ialah untuk mengiringi pagelaran wayang atau tari dan seni panggung (kethoprak atau sendratari).
Gamelan akan bersuara merdu, mantap dan tidak sember/fals, tergantung dari bahannya. Yang paling baik jika dibuat dari bahan perunggu, tapi biayanya sangat mahal. Atau bisa juga dari besi kualitas unggul, walau suaranya tentu kurang merdu, kurang mantap dan kemlonthong. Gamelan/Gongso/"Pradonggo"(Kawi) berasal dari kata: temba ga + raja sa adalah bahan logam yang dicampur menjadi instrumen Gamelan: "gasa" diper luwes menjadi Gongso. Secara keseluruhan instrumental komplit Gamelan selain dari bahan logam, ada yang berbahan kayu, misalnya: gambang, demung, barung, peking, slentem, ditambah alat tiup suling dan alat gebuk kendang dan bedug , alat gesek rebab dan alat petik siter.
Di Solo misalnya, upacara Kirab Gunungan Sekaten pada bulan Maulid untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, dari Karaton Kasunanan Surakarta ke Mesjid Agung di Alun-alun Utara juga diiringi irama Gendhing Carabalen dari perangkat Gamelan yang terdiri dari saron, centhe, keprak, kenong. Selama sepekan, maka Gamelan yang terdiri dari Kyai Guntursaroi dan Gunturmadu dikumandangkan oleh para niyaga (penabuh/pemusik) Karaton dari Bangsal Pradangga di halaman Masjid Agung.
Di Karaton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunagaran maupun Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman terdapat perangkat Gamelan peninggalan para leluhurnya. Sebagai contoh adalah perangkat Gamelan yang ada di Kasunanan Surakarta yang merupakan warisan pusaka dari masa Kerajaan Majapahit dengan keunggulan kualitas suara yang merdu, mantap dan lembut (perangkat Udan Riris, Kanyut Manis untuk pengiring upacara).
Ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma memimpin Mataram juga membuat perangkat Gamelan dan Gendhing-gendhing. Gendhing Ketawang Ageng yang digunakan untuk mengiringiupacara peringatan Jumenengan sang raja trah Mataram merupakan karya besar dari pakar seni karawitan di Karaton yang ilhamnya dari penghayatan terhadap alam lingkungan.
Di Kasultanan Yogyakarta dibuat duplikat perangkat Gamelan Sekaten yang menjadi pelengkap dari sisa Gamelan Sekaten warisan Majapahit, yang kemudian disebut Kyai Nagailaga. Duplikat gamelan Sekaten juga telah dibuat oleh Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta ketika masih bertempat di Sasanamulya, yang pengecoran logam sampai dengan jadinya digarap oleh pengrajin Gamelan di desa Wirun - Bekonang Sukaharjo.
Pura Mangkunagaran dulu punya pabrik pembuat Gamelan di bagian timur komplek Pura yang saat ini telah pindah ke daerah Manahan, yang salah satu buatannya yang cukup baik sudah berpindah ke luar negeri.*