Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Pertemuan Kanjeng Ratu Kidul Dengan Penembahan Senopati


Sebelum Panambahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan tapabrata di Dlepih dan tapa ngeli. Dalam laku tapabratanya, beliau selalu memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan mengayomi rakyatnya sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur.

Dalam cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli, sampai di tempuran atau tempat bertemunya aliran sungai Opak dan sungai Gajah Wong di dekat desa Plered dan sudah dekat dengan Parang Kusumo, Laut Selatan tiba-tiba terjadilah badai dilaut yang dasyat sehingga pohon-pohon dipesisir pantai tercabut beserta akarnya, ikan-ikan terlempar di darat dan menjadikan air laut menjadi panas seolah-olah mendidih. Bencana alam ini menarik perhatian Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian muncul dipermukaan laut mencari penyebab terjadinya bencana alam tersebut.

Panggung Sangga Buwana dan Mitosnya

PANGGUNG SANGGA BUWANA DAN MITOSNYA

Secara mistik kejawen, Panggung Sangga Buwana dipercaya sebagai tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Kangjeng Ratu Kidul, oleh karena itu letak Panggugu Sangga Buwana tersebut persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja sebab datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan. Pada puncak bangunan Panggung Sangga Buwana yang berbentuk seperti topi bulat terdapat sebuah hiasan seekor naga yang dikendarai oleh manusia sambil memanah.

Menurut Babad Surakarta, hal itu bukan sekedar hiasan semata tetapi juga dimaksudkan sebagai sengkalan milir. Bila diterjemahkan dalam kata-kata sengkalan milir itu berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma, yang berarti tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi yang merupakan tahun berdirinya Panggung Sangga Buwana (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, dan Janma=1)

Sunan Kalijaga


Sunan Kalijaga yang hidup di jaman Kerajaan Islam Demak (sekitar abad 15) aslinya bernama Raden Said, adalah putra Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta/Raden Sahur. Raden Sahur adalah keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu. Sunan Kalijaga diperkenalkan agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban sejak kecil.

Syech Siti Jenar

Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499)
Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.

Dewa Ruci

AN DEWA RUCI KEPADA ARYA WREKUDARA/ARYA SENA/BIMA ketika masuk ke dasar samudera guna memenuhi tugas gurunya mencari air penghidupan (Tirtamerta), yang disadur dari bentuk kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta/Solo, Yosodipuro berjudul:"SERAT DEWARUCI KIDUNG" yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus dan sesuai rumus-rumus tembang, dengan bahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa Kuna.

Seperti apa kisahnya, maka kami informasikan intisarinya yaitu bahwa pihak kaum Kurawa  dengan nama negeri Amarta,  ingin menjerumuskan pihak Pandawa  di  negeri Astina,(yang sebenarnya adalah:bersaudara) ke dalam kesengsaraan, melalui  perantaraan Guru Durna. Sena yang adalah murid guru Durno diberikan  ajaran: bahwa dalam  mencapai kesempurnaan demi kesucian badan ,maka  diharuskan mengikuti perintah sang Guru untuk mencari air  suci penghidupan ke hutan Tibrasara. Sena yang telah yakin tidak mungkin teritipu dan dibunuh oleh anjuran Gurunya,  tetap berniat pergi mengikuti perintah sang Guru,walaupun  sebenarnya ada niat sang Guru Durno untuk mencelakaannya.
Diceritakan  Pada saat di negeri Amarta ,Prabu Suyudana/raja Mandaraka/prabu Salya sedang membahas bagaimana caranya Pandawa dapat ditipu secara halus agar musnah, sebelum terjadinya perang Baratayuda, bersama dengan Resi Druna, Adipati Karna, Raden Suwirya, Raden Jayasusena, Raden Rikadurjaya, Adipati dari Sindusena, Jayajatra, Patih Sengkuni, Bisma, Dursasana, dan lain-lainnya termasuk para sentana/pembesar andalan lainnya.
Kemudian Durna memberi petunjuk kepada Sena, bahwa jika ia telah menemukan air suci itu ,maka akan berarti dirinya mencapai kesempurnaan, menonjol diantara sesama makhluk,dilindungi ayah-ibu, mulia, berada dalam triloka,akan hidup kekal adanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa letak air suci ada di hutan Tibrasara, dibawah Gandawedana, di gunung Candramuka, di dalam gua. Kemudian setelah ia mohon pamit kepada Druna dan prabu Suyudana, lalu keluar dari istana, untuk mohon pamit, mereka semua tersenyum, membayangkan Sena berhasil ditipu dan akan hancur lebur melawan dua raksasa yang tinggal di gua itu, sebagai rasa optimisnya ,untuk sementara merekamerayakan dengan bersuka-ria, pesta makan minum sepuas-puasnya.
Setelah sampai di gua gunung Candramuka, air  yang dicari ternyata tidak ada, lalu gua disekitarnya diobrak-abrik. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala yang berada di gua terkejut, marah dan mendatangi Sena. Namun walau telah dijelaskan niat kedatangannya, kedua raksasa itu karena merasa terganggu akibat ulah Sena, tetap saja mengamuk. Terjadi perkelahian .......Namun dalam perkelahian  dua Raksaksa tersebut  kalah, ditendang, dibanting ke atas batu dan meledak hancur lebur. Kemudian Sena mengamuk dan mengobrak-abrik lagi sampai lelah,dalam hatinya ia  bersedih hati dan berfikir bagaimana mendapatkan   air suci tersebut.Karena kelelahan,kemudian ia berdiri dibawah pohon beringin.
Tak lama kemudian, Sena mendengar suara tak berwujud :  "Wahai cucuku yang sedang bersedih,enkau  mencari tidak menjumpai, engkau tidak mendapat bimbingan yang nyata, tentang tempat benda yang kau cari itu, sungguh menderita dirimu".  Diceritakan saat Sena sudah pasrah..... suara itu  yang ternyata adalah  dua dewa, Sang Hyang Endra dan Batara Bayu, yang  memberitahu bahwa dua  raksasa yang dibunuh Sena,ternyata memang  sedang dihukum Hyang Guru. Lalu dikatakan juga agar untuk mencari air kehidupan, Sena di perintahkan agar kembali ke Astina.Perintah inipun dituruti lagi.........
Setibanya di serambi Astina, saat lengkap dihadiri Resi Druna, Bisma, Suyudana, Patih Sangkuni, Sindukala, Surangkala, Kuwirya Rikadurjaya, Jayasusena, lengkap bala Kurawa, dan lain-lainnya, terkejut....!  atas kedatangan Sena. Ia memberi laporan tentang perjalannya dan dijawab oleh Sang Druna :bahwa ia  sebenarnya hanya diuji, sebab tempat air yang dicari, sebenarnya ada  di tengah samudera. Suyudana juga membantu bicara untuk meyakinkan Sena. 
Karena tekad yang kuat maka Senapun  lalu ia pergi lagi....., yang sebelumnya ia sempat mampir dahulu ke Ngamarta.(tempat para kerabatnya berada)
Sementara itu  di Astina keluarga Sena ynag mengetahui tipudaya pihak Kurawa mengirim surat kepada prabu Harimurti/Kresna di Dwarawati, yang dengan tergesa-gesa bersama bala pasukan datang ke Ngamarta. Setelah menerima penjelasan dari Darmaputra, Kresna mengatakan bahwa janganlah Pandawa bersedih, sebab tipu daya para Kurawa akan mendapat balasan dengan jatuhnya bencana dari dewata yang agung.
Ketika sedang asyik berbincang-bincang, datanglah Sena, yang membuat para Pandawa termasuk Pancawala, Sumbadra, Retna Drupadi dan Srikandi, dan lain-lainnya, senang dan akan mengadakan pesta. Namun tidak disangka, karena Sena ternyata melaporkan bahwa ia akan meneruskan pencarian air suci itu, yaitu ke tengah samudera. Nasehat dan tangisan, termasuk tangisan semua sentana laki-laki dan perempuan, tidak membuatnya mundur.
Sena berangkat pergi, tanpa rasa takut keluar masuk hutan, naik turun gunung, yang akhirnya tiba di tepi laut. Sang ombak bergulung-gulung menggempur batu karang bagaikan menyambut dan tampak kasihan kepada yang baru datang, bahwa ia di tipu agar masuk ke dalam samudera, topan datang juga riuh menggelegar, seakan mengatakan bahwa Druna memberi petunjuk sesat dan tidak benar.
Bagi Sena, lebih baik mati dari pada pulang menentang sang Maharesi, walaupun ia tidak mampu masuk ke dalam air, ke dasar samudera. Maka akhirnya ia berpasrah diri, tidak merasa takut, sakit dan mati memang sudah kehendak dewata yang agung, karena sudah menyatakan kesanggupan kepada Druna dan prabu Kurupati, dalam mencari Tirta Kamandanu, masuk ke dalam samudera.
Dengan suka cita ia lama memandang laut dan keindahan isi laut, kesedihan sudah terkikis, menerawang tanpa batas, lalu ia memusatkan perhatian tanpa memikirkan marabahaya, dengan semangat yang menyala-nyala mencebur ke laut, tampak kegembiraannya, dan tak lupa digunakannya ilmu Jalasengara, agar air menyibak.
Alkisah ada naga sebesar segara anakan, pemangsa ikan di laut, wajah liar dan ganas, berbisa sangat mematikan, mulut bagai gua, taring tajam bercahaya, melilit Sena sampai hanya tertinggal lehernya, menyemburkan bisa bagai air hujan. Sena bingung dan mengira cepat mati, tapi saat lelah tak kuasa meronta, ia teringat segera menikamkan kukunya, kuku Pancanaka, menancap di badan naga, darah memancar deras, naga besar itu mati, seisi laut bergembira.
dewaruci1.jpg (12409 bytes)
Sementara itu Pandawa bersedih hati dan menangis memohon penuh iba, kepada prabu Kresna. Lalu dikatakan oleh Kresna, bahwa Sena tidak akan meninggal dunia, bahkan mendapatkan pahala dari dewata yang nanti akan datang dengan kesucian, memperoleh cinta kemuliaan dari Hyang Suksma Kawekas, diijinkan berganti diri menjadi batara yang berhasil menatap dengan hening. Para saudaranya tidak perlu sedih dan cemas.
Kembali dikisahkan Sang Wrekudara yang masih di samudera, ia bertemu dengan dewa berambut panjang, seperti anak kecil bermain-main di atas laut, bernama Dewa Ruci. Lalu ia berbicara :"Sena apa kerjamu, apa tujuanmu, tinggal di laut, semua serba tidak ada tak ada yang dapat di makan, tidak ada makanan, dan tidak ada pakaian. Hanya ada daun kering yang tertiup angin, jatuh didepanku, itu yang saya makan". Dikatakan pula :"Wahai Wrekudara, segera datang ke sini, banyak rintangannya, jika tidak mati-matian tentu tak akan dapat sampai di tempat ini, segalanya serba sepi. Tidak terang dan pikiranmu memaksa, dirimu tidak sayang untuk mati, memang benar, disini tidak mungkin ditemukan".
"Kau pun keturunan Sang Hyang Pramesthi, Hyang Girinata, kau keturunan dari Sang Hyang Brama asal dari para raja, ayahmu pun keturunan dari Brama, menyebarkan para raja, ibumu Dewi Kunthi, yang memiliki keturunan, yaitu sang Hyang Wisnu Murti. Hanya berputra tiga dengan ayahmu, Yudistira sebagai anak sulung, yang kedua dirimu, sebagai penengah adalah Dananjaya, yang dua anak lain dari keturunan dengan Madrim, genaplah Pandawa, kedatanganmu disini pun juga atas petunjuk Dhang Hyang Druna untuk mencari air Penghidupan berupa air jernih, karena gurumu yang memberi petunjuk, itulah yang kau laksanakan, maka orang yang bertapa sulit menikmati hidupnya", lanjut Dewa Ruci.
Kemudian dikatakan :"Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan tempat yang harus disembah".
Wrekudara masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan
"Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku", kata Dewa Ruci. Sambil tertawa sena bertanya :"Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk".Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:"besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku".
Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri. Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.
Ada empat macam benda yang tampak oleh Sena, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:"Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.
Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.
Lalu Wrekudara melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.
Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.
Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.
Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.
Penerima ajaran dan nasehat ini tidak boleh menyombongkan diri, hayati dengan sungguh-sungguh, karena nasehat merupakan benih. Namun jika ditemui ajaran misalnya kacang kedelai disebar di bebatuan tanpa tanah tentu tidak akan dapat tumbuh, maka jika manusia bijaksana, tinggalkan dan hilangkan, agar menjadi jelas penglihatan sukma, rupa dan suara.
Hyang Luhur menjadi badan Sukma Jernih, segala tingkah laku akan menjadi satu, sudah menjadi diri sendiri, dimana setiap gerak tentu juga merupakan kehendak manusia, terkabul itu namanya, akan segala keinginan, semua sudah ada pada manusia, semua jagad ini karena diri manusia, dalam segala janji janganlah ingkar.
Jika sudah paham akan segala tanggung jawab, rahasiakan dan tutupilah. Yang terbaik, untuk disini dan untuk disana juga, bagaikan mati di dalam hidup, bagaikan hidup dalam mati, hidup abadi selamanya, yang mati itu juga. Badan hanya sekedar melaksanakan secara lahir, yaitu yang menuju pada nafsu.
Wrekudara setelah mendengar perkataan Dewa Ruci, hatinya terang benderang, menerima dengan suka hati, dalam hati mengharap mendapatkan anugerah wahyu sesungguhnya. Dan kemudian dikatakan oleh Dewa Ruci :"Sena ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang didatangkan, semua sudah kau kuasai, tak ada lagi yang dicari, kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah dalam cara melaksanakan.
Dewa Ruci selesai menyampaikan ajarannya, Wrekudara tidak bingung dan semua sudah dipahami, lalu kembali ke alam kemanusiaan, gembira hatinya, hilanglah kekalutan hatinya, dan Dewa Ruci telah  sirna dari mata, 
Wrekudara lalu mengingat, banyak yang didengarnya tentang tingkah para Pertapa yang berpikiran salah, mengira sudah benar, akhirnya tak berdaya, dililit oleh penerapannya, seperti mengharapkan kemuliaan, namun  akhirnya tersesat dan terjerumus. 
Bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, kematian seolah dipaksakan, melalui kepertapaannya, mengira  dapat mencapai kesempurnaan dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru, mengosongkanan pikiran, belum tentu akan mendapatkan petunjuk yang nyata. Tingkah seenaknya, bertapa dengan merusak tubuh dalam mencapai kamuksan, bahkan gagallah bertapanya itu. 
Guru yang benar, mengangkat murid/cantrik, jika memberi ajaran tidak jauh tempat duduknya, cantrik sebagai sahabatnya, lepas dari pemikiran batinnya, mengajarkan wahyu yang diperoleh. Inilah keutamaan bagi keduanya.
Tingkah manusia hidup usahakan dapat seperti wayang yang dimainkan di atas panggung, di balik layar ia digerak-gerakkan, banyak hiasan yang dipasang, berlampu panggung matahari dan rembulan, dengan layarnya alam yang sepi, yang melihat adalah pikiran, bumi sebagai tempat berpijak, wayang tegak ditopang orang yang menyaksikan, gerak dan diamnya dimainkan oleh Dalang, disuarakan bila harus berkata-kata, bahwa itu dari Dalang yang berada dibalik layar, bagaikan api dalam kayu, berderit oleh tiupan angin, kayu hangus mengeluarkan asap, sebentar kemudian mengeluarkan api yang berasal dari kayu, ketahuilah asal mulanya, semuanya yang tergetar, oleh perlindungan jati manusia, yang  yang kemudian  sebagai rahasia.
Kembali ke Negeri Ngamarta
Tekad yang sudah sempurna, dengan penuh semangat, Raden Arya Wrekudara kemudian pulang dan tiba ke negerinya, Ngamarta, tak berpaling hatinya, tidak asing bagi dirinya, sewujud dan sejiwa, dalam kenyataan ditutupi dan dirahasiakan, dilaksanakan untuk memenuhi kesatriaannya. Permulaan jagad raya, kelahiran batin ini, memang tidak kelihatan, yang bagaikan sudah menyatu, seumpama suatu bentukan, itulah perjalanannya.
Bersamaan dengan kedatangan Sena, di Ngamarta sedang berkumpul para saudaranya bersama Sang Prabu Kresna, yang sedang membicarakan kepergian Sena, cara masuk dasar samudera. Maka disambutlah ia, dan saat ditanya oleh Prabu Yudistira mengenai perjalanan tugasnya, ia menjawab bahwa perjalanannya itu dicurangi, ada dewa yang memberi tahu kepadanya, bahwa di lautan itu sepi,tidak ada air penghidupan. Gembira mendengar itu, lalu Kresna berkata :"Adikku ketahuilah nanti, jangan lupa segala sesuatu yang sudah terjadi ini".
Sampai disini cerita singkat tentang Dewa Ruci.

MAKNA AJARAN DEWA RUCI

Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.
Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.
 Pencarian air suci Prawitasari
Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.
 Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka
Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.
1.      Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.
2.      Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.
 Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.
 Raksasa Rukmuka dan Rukmakala
Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.
Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).
Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)
 Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.
 Samudra dan Ular
Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.
 Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya. Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1.      Rila: dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.
2.      Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.
3.      Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.
4.      Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.
5.      Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.
6.      Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.
7.      Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.
8.      Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.
9.      Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.
10.  Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.
11.  Samadi.
12.  Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.
 Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci
Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Didalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.
Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :
Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.
 Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.
 Didalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.
 Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima
Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunytan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat didalam paningal.
 Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.
 Tusuk konde besar dari kayu asem
Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.
 Tanda emas diantara mata.
Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.
 Kuku Pancanaka
Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya.
Melambangkan :
1.      Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.
2.      Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.
Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.

Sunan Pakubuwono X


1938 ada tanda tanda bahwa perang Dunia II akan menjalar ke Hindia Belanda(sekarang Indonesia),Tjarda Van Starehkenborg,Gubernur Djendral Berenscot,Panglima Angkatan Perang Belanda,menghadap Paku Buwono X ,agar beliau membuat gua perlindungan maksudnya agar ditiru rakyat,sebagai tindakan preventif.Terjadi dialog sbb:
"Kamu sinyo indo jendral"tanya Sinoehon(sebutan Raja)
"Rasanya begitu Tuan Sinoehen"jawab sang Jendral yang memang berkulit sawo matang
""Kamu sinyo Indo pertama yang berhasil menduduki jabatan begitu tinggi,Aku ikut bersyukur"
:Terima kasih  Tuan Sinoehoen"ucap si Jendral dengan rasa lega karena dikira ada tanda misinya akan berhasil/direstui.
"Jendral,Aku beri jamianan bahwa selama Pakoebuwono  masih hidup perang tidak akan sampai kesini"
Ïnsya Allah tuan Sinoehon"jawab si Jendral penuh tanda tanya?apa maksud Sinoehon ini,kok tidak cocok dengan analisa militernya."Sampaikan pada yang menyuruhmu Tjarda,bahwa  Pakoebuwono tidak akan bikin apa apa,karena disini tidak akan ada perang,entah...kalau Pakuebowono sudah tidak ada lagi,kaamu akan terbirit birit masuk laut.
"Salam hormat saya pada Gubernur Jendral"ucap Sinoehoen dengan nada tinggi ( demikian diceritakan Pangeran Poerbonegoro yang mengantarnya) .Ucapan Sinoehon ini menimbulkan kesan sikap congkak dan takabur,namun disini Beliu bersikap sebgai Raja(Vorst),dipandang sebagai suatu "weco"yaitu suatu ucapan yang belum dapat ditangkap artinya pada saat diucapkan,namun akn menjadi kenyataan dikemudian hari,dan Sinoehoen dikenal sangat mempunyai kemampuan ini(weruh sadurunge winarah)
Dan ternyata benar.....,baru 1000 hari setelah beliau wafat ,orang orang cebol kuning(Jepang) mendarat di Jawa  dan pembesar pembesar Belandakocar kacir lari melalui cilacap menuju ke Australia
Sinoehoen Pakoe Boewono keX adalah putra dari sinuwun P.BIX,dari permaisuri kanjeng ratu Pakubuwono,putri dari Pangeran Wijoyo ke II. Sedangkan SinuwunP.B.IX putra dari P.B.VI yang dibuang ke Ambon karena melawan belanda,dan yang oleh pemerintah RI diangkat sebagai Pahlawan Nasional.Jadi PB.X adalah cucu PB.VI,maka dalam garis perjuangannya melawan kekuatannya Belanda,beliau tidak pernah mengabaikan pesan dan terus melanjutkan perjuangan jejak kakeknya yaitu P.BVI.Beliau dilahirkan pada hari : Kamis legi tanggal 22 Rajab Tahun 1795 (tahun Jawa) atau tanggal 29 November 1866 Masehi jam 7 pagi.Waktu mengandung Ibunda Kanjeg ratu Pakubuwono ngidam dahar : Gudang pakis rojo ,yang  dengan susah payah  di carikan seorang kerabat bernama R.M Inggris dan diketeukan diruah Jan Smit di desa Gumawang.Pada saat kelahiranya disambut  oleh para sentono /kerabat dengan bunyi meriam dan segala tetabuhan dan terompet  lengkap dengan  bunyi gamelan: "kodok ngorek"sebagai ujud syukur atas kelahiran calon pengganti raja yang ditunggu tunggu.Setelah dewasa diangkat menjadi Pangeran dengan sebutan:Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkoenegoro Soedibjo Rajapoetro Narendro Mataram
Setelah Ayahanda PBIX wafat pada tahun1939,P.BX dinobatkan sebagai penggantinya dengan gelar : Sampeyandalem Hingkang Sinoehoen Kanjeng Pakoeboewono Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrahman Sayidin Panoto Gomo Hingkang kaping X.
Adapun sebutan "Sayidin Panoto Gomo"dikarenakan pada malam sebelum penobatan,di masjid Poejosono Bandengan dihadapan para penghulu dari keturunan 9 Wali telah "ngabekti"/sungkem meng "amini"sebagi wali hakim.
Pada waktu berstatus Pangeran beliau menikah dengan B.R.A Ajeng Sumarti,putri K.G.MangkunegoroIV,namun sayang tidak dikaruniai  anak,lalu beliau menikah lagi tahun1845 dengan putri Soeltan Hamengku Buwono dari Jogya,yaitu R.A Mur Sudarinah,yang kemudian bergelar Kanjeng Ratu Mas, namun ternyata dikaruniai seorang putri yaitu Kanjeng Ratu Pembayun.Sampai  dengan wafatnya 3 Januari 1924 ,dari 2 Permaisuri tersebut P.BX belum mendaPatkan putra laki laki pengganti Raja .Namun beliau mendapatkan putra laki laki justru dari seorang "selir dalem"/garwo ampean (istri bukan Permaiswari) yang paling tua yang bernama B.R.A Mandoyoretnoyang kelak akan menggantikan kedudukan Raja ,yang bernama Pangeran Hangabehi  
PBX dalam sejarahnya juga melibatkan diri dalam gerakan Nasional, ini tidak disangkal. Woerjaningrat seorang patih dalem dalam siasat politiknya selalu menyalurkan kehendak Beliau dalam gerakan Nasional, dana disediakan jika diperlukan.
Untuk memperluas wawasannya Beliau secara teratur minta diberi terjemahan  dari koran-koran Belanda Locomatief, Soerabaya’s Handelsbad, agar Beliau dapat mengikuti situasi dunia.
Sinoehoen berkali-kali mengadakan keliling pulau Jawa sampai Lampung Bali dan Lombok, secara incognito. Dengan tujuan untuk menggugah semangat rakyat agar mau mendukung gerakan nasional yang ada. Disamping juga menunjukkan dirinya sebagai Raja Djawa sejati yang sanggup memerintah jika Belanda terusir dari tanah Jawa. Ternyata sambutan rakyat dimana-mana sangat besar. Beliau melakukan semua ini tanpa memperdulikan sikap Belanda yang setengahnya merasa cemas, melihat pengaruh yang ditinggalkan Beliau pada rakyat.
Tindakan Sinoehoen ini bahkan menyerempet-nyerempet bahaya, kalau ditilik dari sangsi yang dapat dijatuhkan Belanda kepada Beliau, sehubungan dengan politik kontrak yang ditanda tangani Beliau pada waktu naik tahta. Namun semua ini tidak diperdulikan
Beliau bahkan tidak pernah mau datang di kantor  gubernur jika ada urusan dinas yang perlu dibicarakan. Sebaliknya gubernur-lah yang harus menghadap ke keraton, dan itupun harus mengikuti protokuler, yaitu memajukan permohonan dulu kalau mau ketemu Sinoehoen, Beliau adalah satu-satunya Raja Jawa yang berani mengambil resiko ini. Beliau tetap menunjukkan kewibawaannya sebagai Ratu.
Sinoehoen sadar bahwa untuk mengadakan aksi militer terhadap Belanda sudah tidak mungkin lagi, sejak negeri ini terpecah menjadi 2 kerajaan dan 2 kadipaten. Namun Beliau tidak akan melepaskan cita-citanya membangun kembali kerajaan Mataram seperti semula. Kata seorang gubernur Belanda, bahwa dalam mimpinya Sinoehoen masih membayangkan ini. Juga tidak akan dilupakan pesan yang ditinggalkan sang eyang, Sonoehoen Pakoe Boewono Ke-VI, yang wafat di tanah pembuangan, agar jangan lupa mengambil tindakan terhadap Belanda.
Oleh karena itu Beliau hanya dapat berharap, berharap dan menunggu. Dan akhirnya yang diharapkan dan ditunggu itu tiba, yaitu dengan munculnya gerakan nasional, maka langsung Beliau menyongsongnya.
Sinoehoen tidak sempat melihat terwujudnya cita-citanya yaitu kerajaan Mataram kembali jaya, hanya dalam perwujudan yang lebih besar. Bukan hanya kerajaan Mataram saja, tetapi kemerdekaan yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Bukan hanya kerajaan Mataram melainkan Negara Republik Indonesia. Beliau mempunyai andil atas terwujudnya semua ini.
Sejarah Indonesia tidak hanya dimulai sejak diproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, melainkan sudah dimulai pada saat sejarah pra-proklamasi yang mendahuluinya. Masa pra proklamasi ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah Republik Indonesia.
Pematangan situasi dan kondisi ikut menentukan keberhasilan proklamasi, dan pematangan situasi dan kondosi ini terjadi pada masa pra-proklamasi yang mendahului proklamasi. Yaitu masa pra-proklamasi pada saat mana organisasi-organisasi nasional mulai timbul sejak tahun 1908. Juga tidak ketinggalan peran para pemimpin gerakan nasional, yang menanamkan jiwa nasional pada rakyat, sehingga mendorong rakyat untuk bengkit, untuk berani melawan. Proklamasi berhasil karena pematangan situasi dan kondisi ini.
Timbulnya niat Sinoehoen melakukan peran ini, bukan karena kebetulan, bukan karena menumpang keadaan , tetapi niat Beliau ini sudah ada sejak keraton Soerakarta berdiri. Sejak semula  Beliau sudah bertekad untuk mengusir Belanda dari tanah Jawa dari Bumi Mataram dan menghidupkan kembali kerajaan Mataram. Adanya organisasi-organisasi Mataram. Adanya organisasi-organisasi nasional tersebut menguatkan tekad Beliau.
Terwujudnya Republik Indonesia juga sesuai pesan ynag disampaikan Sinoehoen kepada putra-putranya: “gede mongso iku pada bae disike kersaning Allah iku ora ilok Angger Ananging yen sangat kasebut ing jongko wus manjing, kamongko angger mung meneng bae, iku bakal kasiku maring Allah. Manjinjing sangat yen wus angger pada dadi yatim piatu. Kang prayitno ati-ati”
Belanda terusir dari bumi Indonesia, kemerdekaan telah tercapai, setelah putra-putra Sinoehoen menjadi yatim piatu. Semua putra Beliau berdiri di garis depan waktu berdirinya Republik Indonesia antaranya Pangeran Poerbonegoro, pangeran Djatikoesoemo membuktikan ini semua.
Tidak ada kata-kata yang tepat untuk memberi penilaianterhadap peran dan jasa Sinoehoen. Kharisma Beliau tidak pernah sirnah dimata orang Jawa dieluruh kepulauan, baik dikalangan rakyat kecil, dimata kaum nasionalis sampai dimata para politikus.
Kita hanya dapat menundukkan kepala, memberi hormat . Hanya sebuah pepatah Belanda yang cocok dalam hal ini: EERE WIE DE EERE TOEKOMT.
Pada akhir bulan November 1938 SINOEHOEN SRI SOESOEHOENAN PAKOEBOEWONO KE-X sakit keras dan akhirnya wafat pada tanggal 20 Februari 1939. Seorang Raja Besar telah meninggalkan kita.

Sunan Pakubuwono VI


PAHLAWAN KEMERDEKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
 
"Ya, Allah, Tuhan kami Yang Mahabesar lagi Maha kuasa, ampunilah akan dosa-dosa dan kekhilafan semua pahlawan kami yang telah Kau panggil di medan laga. Dan lebih-lebih arwah beliau Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI, Pangeran Diponegoro beserta seluruh panglima-panglima, menggala-manggala , dan seluruh prajurit-prajuritnya. Karena ternyata mereka itu telah melaksanakan perang suci, yang ingin menghancurkan angkara murka, penjajah yang menghisap kekayaan bangsa dan negara kami. Tuhan, terimalah semua pahlawan kami itu di surga-Mu yang penuh kemuliaan. Amin , Amin, Ya rabalalamin !
dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro, rasanya putuslah sudah harapan raja untuk mengusir penjajah Belanda dari Nusantara tercinta. Dan terasahlah oleh beliau, bahwa cita-citanya untuk melepaskan rakyat dan negerinyadari cengkeraman angkara murka bangsa asing jauh dari terhingga. Peristiwa-peristiwa yang menyayat hati yang baru saja berlalu datang silih berganti memasuki angan-angan beliau.
Itulah sebabnya, maka pada tanggal 5 malam 6 juni 1830, Ingkang Sinuhunan Paku Buwono VI yang terkenal dengan sebutan beliau "Sinuhun Banguntapa" pergi dengan diam-diam ke Parangtritis di pantai selatan Pulau Jawa
Tujuan perjalanan beliau adalah untuk melakukan meditasi di sana. Maksudnya, beliau hendak menghubungkan diri dan minta bantuan Ratu Roh Halus yang bertahta sebagai Ratu Lautan Selatan atau Lautan Hindia.langkah ini diambil mengingat kebiasaan-kebiasaan raja-raja Jawa pada zaman dahulu kala pun melakukan hal yang begitu pula. Seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, beserta seluruh keturunannya sampai kepada raja-raja Surakarta Hadiningrat. Semuanya percaya dan ada hubungan baik dengan Ratu Lautan Selatan itu.
Di pihak lain, Belanda semakin gencar usahanya untuk menguasai pulau jawa secara menyeluruh. Dengan berhasilnya menipu Pangeran Diponegoro, Belanda semakin gigih usahanya untuk menghancurkan kekuasaan Kerajaan Surakarta. Agar maksud jahatnya itu segera tercapai, maka penjajah Belanda menyebar kaki tangan dan mata-mata sebanyak mungkin. Setiap langkah Sinuhun Banguntapa selalu diawasinya dengan ketat.
Ketika Belanda tahu bahwa Sinuhun Banguntapa pergi ke pesisir selatan itu hanya dikawal oleh dua orang abdi terdekatnya, penjajah Belanda seolah-olah mendapat peluang emas yang tiada terkira harganya. Perjalanan sang raja dibuntuti terus-menerus, di samping pasukan siap tempur disiagakan dari belakang.
Begitu Sinuhun Banguntapa sampai di Parangtritis, berlarianlah kedatangan serdadu-serdadu Belanda itu untuk menangkap sang raja. Seterusnya, malam itu juga beliau langsung di bawa ke Semarang. Dari sini diputuskan, bahwa raja dari Surakarta itu harus menerima hukuman yang berupa pembuangan ke Ambon.
Kini beliau harus menjalani hidup dalam pengasingan di Ambon. Walaupun demikian, agaknya semangat beliau masih juga menyala-nyala. Hal itu wajar. Sebab memang dalam tubuh beliau mangalir darah pahlawan. Darahnya Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram, yang pernah melawan Kompeni Belanda di awal abad ke-17. Sehingga tidak aneh lagi kalau keturunan Sultan Agung itu, walaupun dalam pembuangan, masih berminat untuk melanjutkan perjuangannya.
Hal itu terbukti dalam usaha beliau untuk menyatukan diri dengan Sultan Ternate, yang juga bermaksud melawan Belanda.
Dengan perantaraan Nona Kowi, anak Kwe Ko Hing, dilakukannyalah maksud beliau untuk melepaskan diri dari pembuangan dan menuju Ternate.
Namu apa daya. Agaknya kodrat telah digariskan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Nampaknya sang Maha Pencipta tidak memperkenenkan Sinuhun Bnaguntapa meneruskan perjuangnnya di daerah Maluku. Sebelum beliau sempat bersatu dengan Sultan Ternate, pihak penjajah telah memburu dan menagkapnya kembali. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 3 Juni 1849.
Hal itu adalah tingkah yang wajar saja yang dilakukan oleh si angkara penjajah Belanda. Itu jelas. Sebab penjajah Belanda menganggap, bahwa langjah beliau itu dianggap berbahaya. Membahayakan bagi berlangsungnya penjajahan di bumi Nusantara tercinta ini
Untuk mencegah bahaya besar yang mengancam, maka penjajah Belanda menghadap Sinuhun Banguntapa ke depan penembak-penembak kolonial Belanda yang angkuhdan angkara. Dengan ledakan Baker Rifle, saat pula gugurlah Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI sebagai kusuma bangsa yang harum semerbank mewangisepanjang masa di persada Pertiei
Untuk menutupi kecerobohan dan napsu kebiadapan angkara murkanya, penjajah Belanda menyiarkan berita bohong. Belanda mengabarkan, bahwa Sinuhun Bnaguntapa pulang ke rakhmatullah hanya karena kejatuhan tiang layar sewaktu beliau bercengkrama dan berperahu-perahu di pantai.
Sekilas saja telah tampak. Bahwa tidak mungkin seorang patriot gugur hany akrena bermain-main perahu layar.
Waktu terus berjalan sesuai dengan peredarannya. Peristiwa dan berita di atas seolah-olah bagai tertimbun oleh peristiwa-peristiwa lain. Lebih-lebih peristiwa yang lebih besar seperti Revolusi 1945 beserta rentetannya.
Setelah hampir seratus delapan tahun berlalu, tepatnya pada tanggal 13 Maret 1957, makam beliau Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri. Hal ini dilaksanakan atas prakarsa dan usaha beliau Bapak Letjen G.P.H. Jatikusuma.
Di dalam pemindahan makam beliau, sempat pula diketahui apa sebab-sebab wafat Sinuhun Banguntapa dari Kerajaan Surakarta itu. Yang sebelumnya memang timbul suatu pertanyaan besar. Betulkah berita buatan Belanda, bahwa beliau wafat karena kejatuhan tiang layar perahu ?.
Ternyata berita penjajah itu sekali bohong-tetap bohong. Buktinya pada tulang kepala Sinuhun Banguntapa, tepat di atas pelupuk mata sebelah kanan. Jadi, pada dahi beliau sebelah kanan berlubang akibat tertembus peluru senjata “Banker Rifle”.
Dengan demikian seolah-olah beliau menunjukkan kepada segenap sentana dalem, segenap abdi dalem, dan segenap kawula dalem, bahkan kepada masyarakat Indonesia yang luas ini. Yang seolah-olah beliau berkata dari pangkuan Tuhan, “Wahai kawulaku, warga Nusantara. Aku rajamu, kurelakan pecahnya kepalaku dan tumpahnya darahku lewat senapan Baker Rifle dari tangan angkara penjajah Belanda, demi cita-cita kemerdekaanmu !”.
Betapa besar pengorbanan Sinihun Banguntapa demi cita-cita kemerdekaan Nusantara ini tiada ternilai harganya. Baik berupa harta, senjata, tamtama, bintara, dan perwira, bahkan jiwa dan raga beliau sendiri dikorbankannya. Demi kemerdekaan
Berdasarkan itulah, maka Pemerintah Republik Indonesia, mengangkat beliau Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Republik Indonesia.
Pengangkatan ini ditetapkan di dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294, tertanggal 17 November 1964, yang ditandatangani oleh presiden Sukarno. Surat Keputusan itu disiarkan pada tanggal 10 Desember 1964 di Balaikota Kotamadya Surakarta.
Inilah salah satu peristiwa bersejarah yang amat besar di Negara Kesatuan Republik Indonesia kita tercinta. Khususnya bagi Kotamadya Surakarta, kota tempat lahir dan bertakhtanya Sinuhun Banguntapa almarhum.

Pangeran Sambernyawa


PERJUANGAN PENGERAN SAMBERNYAWA

Peranan dan Politik VOC
Agar supaya kita dapat mengerti dan memberi nilai yang sewajarnya kepada perjuangan Pangeran Sambernyawa, sebaiknya kita mengerti terlebih dahulu sistem politik VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie ) ialah Perserikatan Dagang Bangsa Belanda yang beroperasi di Indonesia dalam abad ke 17 Masehi, sampai akhir abad ke 18.Bangsa Indonesia menyebut VOC itu dengan nama Kompeni Belanda atau “ Kompeni “ saja.
Adapun sistem politik Kompeni di Indonesia ( Jawa ) dapat dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu : Memperkenalkan diri, menghormat dan menghaturkan benda-benda berharga sebagai tanda hormat dan terima kasih kepada yang memegang kekuasaan : Jaman Sunan Amangkurat I di Mataram th. 1645 – 1677 Masehi.
Mencampuri urusan dalam negeri : jaman pemberontakan Trunojoyo th. 1676 – 1681 Masehi.
Mempraktekkan politik “ Memecah belah “ dan memperoleh monopoli perdagangan : Jaman Sunan Amangkurat II th. 1681 – 1703 Masehi.
Menguasi tanah Jawa sedikit demi sedikit : mulai wafatnya Sunan Amangkurat I sampai rebutan Keraton yang pertama ( th. 1704 – 1708 M ) dan perang rebutan Keraton yang kedua ( th. 1719 – 1723 M )
Menguasi tanah Jawa hampir penuh : Jaman Sunan Pakubuwono II samapi masa pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua, th. 1755 dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran th. 1757 M.
Dalam tingkatan yang kelima tsb, maka semua kerajaan Nasional di Jawa sudah runtuh, daerah-daerahnya menjadi milik kompeni Belanda, dan raja-rajanya menjadi raja-raja peminjam atau Vazal-vazal kompeni Belanda belaka.
Dalam tingkatan kelima itu pula bertahtalah seorang raja setengah Vazal di kerajaan Mataram yang beribu kota Kartasura. Raja ini adalah pilihan kompeni Belanda atas dasar sifat-sifat lemahnya sang raja, yaitu Susuhunan Pakubuwono II bertahta pada th. 1727 – 1749 masehi.
Dalam pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II ini muncullah 2 tokoh nasional yang gagah berani, kuat dan ulet lahir batinnya, mampu menggerakkan seluruh tanah Jawa dan Banten sampai Madura dan membuat pusing kepala kompeni Belanda selma 10 tahun, terus menerus , dua orang tokoh itu ialah :
Pangeran Mangkubumi, Putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura, yang akhirnya menjadi Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta.
Pengeran Mangkunegara, Sambernyawa, cucu Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura.

Nasib buruk dimasa kecil Pangeran Sambernyawa
Pangeran Sambernyawa itu nama kecilnya R.M Sahid, putera Pangeran Mangkunegara Kendang. Ibunya bernama R. Ay. Wulan, puteri Pangeran Blitar.
Pangeran Mangkunegara Kendang itu putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura yang sulung. Belio ini saudara sepupu R.Ay. wulan, Belio dilahirkan dari seorang garwa-selir Amangkurat IV bernama R. Ay. Sumanarsa atau R. Ay Kulo yang disebut R. Ay, Sepuh, berasal dari desa Keblokan, tanah lor ( Wanagiri ). Di dalam lingkungan Keraton Kartasura belio disebut Pangeran Mangkunagara Kendang, oleh karena belio dikendangkan yaitu diasingkan atau dibuang ke Kaapstad, Afrika Selatan, sampai wafatnya, kemudian jenazahnya dimakamkan di Astana Imagiri, Yogyakarta.
R.M Sahid lahir pada tanggal, 7 April 1726 di Kartasura. Nama Sahid itu pemberian dari neneknda Amangkurat IV, beberapa waktu sebelum wafat. Maksud pemberian nama Sahid itu ialah bahwa Sri Sunan masih menyaksikan lahirnyacucunda yang terakhir dalam masa hidupnya.
Dimasa kecilnya R. Sahid mengalami penderitaan hidup yang sangat berat. Ketika berusia 3 tahun, belio kehilangnya ibunya, karena pulang kerahmatullah. Tahun berikutnya belio ditinggalkan oleh ayahnya, karena sang ayah atas perintah Pakubuwuno II di Kartasura disingkirkan dari ibu kota kerajaan Mataram ke Betawi, dan 3 tahun kemudian “ Dikendangkan “ ke Kaaspstad seumur hidup. R.M Sahid dan beberapa adinya dibawa ke Keraton sebagai anak piatu, dan mendapat pendidikan, perlakuan dan pengalaman yang akibatnya menyudutkan belio kepada : prihatin dan sakit hati.
Setelah beliau mencapai usia remaja, diangkat sebagai pegawai keraton dengan pangkat Mantri Gandek Anom dengan sebutan dan nama R.M Suryakusuma dan diberi “ Gaduhan “ ( hak pakai ) sawah di Ngawen seluasa 50 jung ( =200 bahu ). Dua orang adiknya bernama R.M Ambiya dan R.M Sabar juga diangkat menjadi Mantri Gandek Anom berturut-turut dengan gelar dan nama : R.M Martakusuma dan R.M Wiryakusuma, masing-masing diberi gaduhan tanah seluas 100 bahu.

Mulai berjuang
Dengan meningkatnya usia dan kesadarannya, maka R.M suryakusuma ( Sahid ) merasakan nasibnya yang buruk menjadi berat. Perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang yang dikenakan kepada ayahnya ( almarhum Pangeran Mangkunagara Kendang ) menggigit jantung pemuda R.M Suryakusuma. Akhirnya belio mengambil keputusan : mau berontak, menentang pemerintahan Pakubuwono II, untuk merebut bagian dari kerajaan Mataram bagi diri pribadi. Beliau mengambil dua orang pembantu utama yang merupakan bahu kiri dan kanannya, ialah : Wiradiwangsa, pamannya sendiri berassal dari Laroh. Sutawijaya, anak almarhum Tumenggung Wirasuta yang tidak dapat mengganti kedudukan ayahnya, tetapi menerima banyak uang dan harta benda peninggalan ayahnya.
Pemuda-pemuda Kartasura yang menggabungkan diri pada gerakan R.M Sahid, mula-mula ada 18 orang. Atas nasehat ki Wiradiwangsa, maka R.M Sahid beserta pembantu-pembantunya dan pemudapemuda pengikutnya berpindah ke Tanah Laroh, yaitu asal leluhur R.M sahid dari pihak neneknya bernama R. Ayu Sumanarsa. Disini belio mendapat simpati dari pihak rakyat sehingga dalam waktu yang tidak lama belio mempunyai pengikut banyak sekali. Segera diadakan peraturan secara organisasi perjuangan yang bai dan praktis, demikian : R.M Sahid menjadi pemimpin utama, Ki Wiradiwangsa diangkat menjadi pepatihnya, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Kudanawarsa dan R.M Sutawijaya menjadi pemimpin pasukan tempur, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Rangga Panambangan.
Pemuda-pemuda berasal dari Kartasura yang semula 18 orang banyaknya, kemudian bertambah menjadi 24 orang, merupakan barisan inti, disebut “ Punggawa “. Namanya digantisemua menjadi nama dengan permulaan : “ Jaya “ misalnya Jaya Panantang, Jaya Pamenang, Jaya Prawira dsb. “ Jaya “ artiny = sakti atau menang.
Tiap hari diadakan latihan perang, cara menyerang, menangkis dan membela diri. Tiap malam diadakan bermacam-macam latihan rohani misalnya : Menyepi ditempat-tempat yang gawat dan keramat, bertirakat, bertarak brata, mohon kepada Tuhan agar tercapai cita-citanya : ada pula yang merendam diri di sendang atau di dalam lubuk yang angker. Para pengikut R.M Sahid itu semua juga digembleng jiwa dan semangatnya dengan diberi wejangan-wejangan oleh para kyai antara lain oleh kyai Nuriman, modin di Laroh. Dengan demikian para pengikut R.M Sahid dalam waktu beberapa bulan saja sudah merupakan pasukan tempur yang digembleng jiwa raganya, sedang jumlahnya tidak sedikit. Mereka semua bersemangat tinggi, ingin selekas mungkin diajukan ke medan pertempuran. Dan kesempatan yang dinanti-natikan mereka itu segera datang juga, ialah dengan adanya : Geger Pacina.

Geger Pacina
Pada bulan juli 1742 M terjadilah peristiwa “ geger Pacina “ dikaraton Kartasura. Dalam waktu satu malam saja istana Kartasura sudah dapat direbut oleh pasukan Cina-Jawa dibawh pimpinan R.M Garendi, cucu Sunan Amangkurat Mas III yang telah diasingkan oleh kompeni Belanda ke pulai Sailan pada tahun 1708 M. R.M Garendi tersebut oleh para pengikutnya diangkat sebagai raja Mataram yang syah, dengan gelar dan nama Sunan Amangkurat IV.
Sunan Pakubuwono melarikan diri, mengungsi ke Ponorogo. Dari sini beliau minta bantuan kompeni di Jakarta. Bala bantuan segera datang dari Madura dibawah pimpinan P. Cakraningrat IV. Dalam bulan Desember 1742 Sunan Kuning, demikian nama julukan Sunan Amangkurat V, beserta semua pengikutnya diusir dari keraton Kartasura, lalu berpindah ke desa Randulawang, daerah Mataram.

Bergabung dengan Sunan Kuning.
RM. Said dengan seluruh pasukannya bergabung dengan Sunan Kuning untuk mempraktekkan kecakapannya berperang bahkan diangkat menjadi panglima tentara Sunan Kuning bahkan diberi gelar Panglima Prang Wadana (April 1743). mso-ansi-language:PT-BR">Kala itu usia beliau 17 tahun.>
Pada sat Sunan Kuning dikecar tentara Kompeni dan terpaksa bergeser kedaerah Keduang – Ponorogo – Madiun – Caruban. R.Said mengikuti perjalanan Sunan Kuning lalu berpisah di Caruban kemudian Sunan Kuning bergerak ke Jawa Timur bergabung dengan keturunan Untung Suropati namun tak lama kemudian menyerah pada Kompeni dan berakhirlah geger pacinan tersebut.
Adapun P. Prang Wardana ternyata mempunyai cita-cita lain dari Caruban beliau menuju ke barat menuju daerah Sukowati dimana oleh masyarakat setempat dia diangkat sebagai pimpinan dengan gelar Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro Senopati Ing Ngalogo Sudibianing Prang. Lalu bergerak terus ke Panambangan melalui Jati Rata, Mateseh dan Segawe. Namun disini beliau tidak kuat menghadapi serangan pasukan P. Mangkubumi atas perintah Paku Buwono II yang telah bertahta di Kartasura.
Dalam babat giyanti (Pujangga Yasadipura I), ketika RM. Sahid menobatkan diri sebagai raja Jawa dengan gelar Sunan Adiprakosa Senopati Ngayuda Lelana Jayamisesa Prawira Adiningrat, serta duduk disinggasana dan dihadapan bala tentaranya tersambar petir dan terkena dampar tahtanya hingga remuk beliau jatuh pingsan diatas lantai namun tidak wafat hal ini tidak masuk akal jikalau ada seorang duduk diatas kursi lalu disambar petir seharusnya beliau pun ikut hancur. Dalam peristiwa tersebut Kyai Tumenggung Kuda Nawarsa segera menolongnya dan menunjukkan mengapa ini bisa terjadi, yaitu : kesombongan beliau atas pemberian gelar raja Jawa yang sebetulnya belum selayaknya disandang dengan kenyataan inilah dia berganti gelar Pangeran Arya Mangkunegoro (1746).
Kejadian tersebut disusul dengan peristiwa dimana markas besarnya di Panembangan diserbu dan diduduki Kompeni yang dipimpin Mayor Van Hohendorff serta patih Pringgolaya dari Paku Buwono II bahkan begeser ke Ngepringan – Pideksa – Tirtamaya – Keduang - Girimarta – Nggabayan – Druju – Matesih – hingga sampai didesa padepokan Samakaton bahkan waktu di daerah Ngepringan sang pangeran hampir terbunuh bahkan sempat berpisah dari keluarga dan pasukannya mendaki bukit dan turun gunung bersama Kyai Kuda Nawarsa dan Kyai Surawijaya. Di Pedepokan Samakaton tinggal 2 pertapa kakak beradik namanya Ki Ajar Adisana dan Ki Ajar Adirasa. Beliau berguru pada keduanya dan diberi wejangan yang intinya  :
Kyai guru tersebut menunjuk kesalahan Pangeran Mangkubumi atas kesombongannya
Kedua beliau mendapat hukuman dai Ilahi
Beliau harus bertobat secara mendalam
Beliau hendaknya mencontoh Panembahan Senopati Ing Ngelogo Mataram dan pada Pamannya Pangeran Mangkubumi
Beliau diuji menjalankan laku – dan bertapa selam 7 hari-malam tanpa makan dan minum seorang diri di Gunung Mangadeg.
Menurut Babat Giyanti dalam pertapaannya terjadi sesuatu keajaiban yaitu mendapat pusaka secara gaib berupa satu tombak vaandel yang bernama Kyai Buda dan satu kerangka tambur bernama Kyai Slamet yang menunjukkan simbol kejayaan.

Dibagian lain Pujangga Yasadipura I memaknakan fenomena di Samakaton ini dengan mengkiaskan maksud pendidikan moral – mental yaitu :

1.Samakaton 2. Adisana 3. Adirasa 4. Mangadeg 5. Vaandel(tombak) 6. Kerangka tambur, artinya adalah :
Samakaton artinya kesemua hal dapat terlihat apabila manusia mau datang menyepi ditempat yang indah, yaitu
Adisana artinya tempat yang indah, apabila manusia berani laku menyepi di tempat yang indah itu akan mendapatkan rasa ynag indah pula yang akhirnya menimbulkan kemurnian dihati nuraninya 
Adirasa artinya rasa yang indah.

Dalam hal 1, 2, 3 tersebut diatas kenyataannya apabila manusia sanggup berdiri (mangadeg – mendirikan Imannya) kepada Yang Maha Kuasa seperti tegaknya vaandel tersebut.

Tombak atau Vaandel simbol kejayaan apabila ditambahkan dengan rasa suci, sunyi, kosong, kang Hamengku Hana (ada) yang dinisbatkan dengan :
Kerangka tambur diguning Mangadeg tersebut.
Setelah mendapatkan ilafat baik tersebut beliau menuju ke markas besar pamannya  (Pangeran Mangkubumi dai Jekawal – Sragen Utara ) untuk menggabungkan diri dan memohon perlindungan pamannya walaupun dalam perjalannya menemui banyak kesukaran karena ada pengumuman dari kompeni yang apabila dapat menangkapnya hidup atau mati akan mendapat hadiah pangkat dan uang. Dikisahkan dalam pertemuan dengan pamannya tersebut beliau diterima baik oleh pamannya bahkan diberikan bantuan seperangkat senjata dan prajurit untuk kembali kemarkasnya di daerah Gumantar.
Pangeran mangkubumi adalah adik Paku Buwana II yang berlainan ibu yang pada saat itu memenuhi seruan Paku Buwono II untuk membasmi peberontakan RM. Sahid dan Martapura. Untuk sementara Pangeran Mangkubumi berhasil meredam pemberontakan walaupun harus meloloskan RM. Sahid. Hal ini menimbullkan konflik dari dalam dimana  PB II yang tadinya menjanjikan tanah Sukowati bagi yang dapat menangkap RM. Sahid akhirnya mengingkari janjinya karena kelicikan Patihnya sendiri yaitu Pringgolaya. Dikarenakan sebab ini Mangkubumi pada 19 Mei 1746 meninggalkan karaton Surakarta dan memberontak yang pada akhirnya mendirikan kerajaan diYogykarta dan menjadi Sultan Hamengku Buwono I.
Demikian riwayat singkat Rm. Sahid yang kemudian dikenal dengan nama Adipati mangkunegoro I atau Pangeran Samber Nyawa beliau memegang tampuk pimpinan Kadipaten Mangkunegaran mulai tahun 1757 sampai wafatnya 1795 jenasahnya dimakamkan di Mangadeg dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran ini diperingati dengan sangkalan : MULAT SARIRA NGRASA WANI = berarti tahun Jawa 1682, bersamaan dengan tahun Masehi 1757. Nama julukan Pangeran Adipati Mangkunegara I ialah Sambernyawa. Nama yang terakhir ini adalah nama Pedang pusaka Mangkunagaran, yang sangat ampuh dan tajam, tepat sekali untuk menyambar nyawa musuh.

Mitos Kanjeng Ratu Kidul

Di dalam karaton banyak ditemukan berbagai macam lambang dalam segi kehidupan, dimulai dari bentuk dan cara mengatur bangunan, mengatur penanaman pohon yang dianggap keramat, mengatur tempat duduk, menyimpan dan memelihara pusaka, macam pakaian yang dikenakan dan cara mengenakannya, bahasa yang harus dipakai, tingkah laku, pemilihan warna dan seterusnya. Karaton juga menyimpan dan melestarikan nilai-nilai lama, mengenal folkfor dan beberapa mitos.