PANGGUNG SANGGA BUWANA DAN MITOSNYA
Secara mistik kejawen, Panggung Sangga Buwana dipercaya sebagai tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Kangjeng Ratu Kidul, oleh karena itu letak Panggugu Sangga Buwana tersebut persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja sebab datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan.
Pada puncak bangunan Panggung Sangga Buwana yang berbentuk seperti topi bulat terdapat sebuah hiasan seekor naga yang dikendarai oleh manusia sambil memanah.
Menurut Babad Surakarta, hal itu bukan sekedar hiasan semata tetapi juga dimaksudkan sebagai sengkalan milir. Bila diterjemahkan dalam kata-kata sengkalan milir itu berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma, yang berarti tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi yang merupakan tahun berdirinya Panggung Sangga Buwana (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, dan Janma=1)
Pakubuwono
Kompleks istana dinasti Mataram yang dulu ada di Kartasura pada tahun 1742, diserbu dan dijarah raja saingan dari kerajaan pulau Madura. Dengan bantuan Belanda Raja Mataram, Pakubuwono II, merebut kembali tahtanya dan memindahkan kerajaannya ke dekat Surakarta. Di tempat yang baru ini, di tepi sungai yang terpanjang di Pulau Jawa yang bernama begawan Solo, Pakubuwono II membangun istana yang baru.
Menurut legenda, lokasi Kraton Surakarta dipilih oleh Ratu Laut Selatan, Nyai Loro Kidul, yang secara tradisional berhak mengesahkan kedudukan raja-raja jawa. Di sekeliling Pendopo Utama yang terletak di bagian tengah kraton terdapat lautan pasir yang berwarna hitam. Hal ini menandakan bahwa kraton berada dalam wilayah kekuasaan Nyai Loro kidul dari Laut Selatan.
Langganan:
Postingan (Atom)

